Jakarta, VIVA – Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan acara "World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025". Acara dilaksanakan di Gedung IASTH UI Lantai 5 Kampus Salemba, Jumat 13 Februari 2026.
Forum strategis ini mempertemukan akademisi, aparat penegak hukum, dan pembuat kebijakan untuk membedah peta baru ancaman terorisme global dan implikasinya bagi Indonesia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Maureen Pomsar Lumban Toruan, Wakil Direktur Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Kerja Sama, mewakili Direktur SPPB UI.
Dalam pembukaannya, pihak SPPB UI menegaskan komitmen universitas sebagai jembatan antara riset akademik dan kebijakan praktis untuk mendukung penanganan terorisme di Indonesia.
Sesi dilanjutkan dengan Keynote Speech dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diwakili oleh Brigjen Mochamad Rosidi. Ia mengapresiasi kehadiran WTI 2025 sebagai instrumen vital dalam membaca tren global.
Rosidi menekankan bahwa data berbasis riset sangat diperlukan untuk mempertajam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE). Selain itu, untuk memastikan langkah negara tetap relevan di tengah dinamika ancaman yang terus berubah.
Peneliti WTI Muhamad Syauqillah dan Adhiascha Soemitro memaparkan temuan tahun 2025. Dalam paparannya, tim peneliti mengungkapkan data komparatif posisi Indonesia. Pada tahun 2024, Indonesia berada di peringkat 51 dengan skor 18 dan masuk dalam kategori low impact.
Pada tahun 2025, tercatat bahwa Indonesia masih termasuk dalam kategori low impact dan dengan adanya perbaikan skor menjadi 15. Perbaikan ini secara spesifik disebabkan oleh penurunan jumlah operasi penangkapan sebelum aksi teror, yang secara langsung mengurangi skor total berdasarkan bobot penilaian indeks.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kemudian, peringkat Indonesia turut mengalami pergeseran dari posisi 51 pada tahun 2024 ke peringkat 45 di tahun 2025. Tim peneliti menjelaskan bahwa kenaikan peringkat di tengah perbaikan skor ini terjadi karena negara-negara lain kemungkinan mengalami perbaikan skor yang jauh lebih signifikan atau kondisi keamanannya cenderung stabil, sehingga memengaruhi posisi relatif Indonesia dalam pemetaan global.
Sementara itu, laporan WTI 2025 menyoroti sejumlah temuan utama tren terorisme pada tahun 2025 ini. Pertama terkait dengan kerentanan anak muda dan remaja, serta digitalisasi teror yang kini telah berkembang menjadi fenomena global.
Halaman Selanjutnya
"Kami menemukan peningkatan dalam radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis kini memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring (online games) untuk menyebarkan propaganda. Metode ini mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung efektif, cepat, dan sulit terdeteksi oleh pengawasan konvensional," ungkap tim peneliti.

3 weeks ago
9










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
