Serangan Siber Berubah di Era AI, Phishing hingga Ransomware Kini Lebih Sulit Dideteksi

5 hours ago 1

Jumat, 13 Maret 2026 - 12:28 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan besar di berbagai sektor, termasuk dunia bisnis. Banyak perusahaan memanfaatkan teknologi ini untuk mengotomatisasi pekerjaan, menganalisis data dalam jumlah besar, hingga membantu proses pengambilan keputusan secara lebih cepat dan akurat.

Namun di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah serius. Teknologi yang sama juga mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital untuk mengembangkan metode serangan yang lebih kompleks. Akibatnya, ancaman siber kini berkembang lebih cepat dan semakin sulit dikenali oleh organisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko keamanan digital. Ketika bisnis semakin bergantung pada sistem berbasis data dan jaringan, potensi serangan juga ikut meningkat.

“Dulu serangan siber sangat bergantung pada upaya manual. Sekarang AI memungkinkan pelaku serangan mengotomatiskan serangan dan menjalankannya dalam skala besar, sehingga ancaman menjadi lebih canggih dan lebih sulit dideteksi oleh organisasi,” jelas Clara Hsu, Indonesia Country Manager di Synology Inc. dalam keterangan tertulisnya. 

Perubahan tersebut terlihat pada beberapa jenis serangan yang semakin berkembang, mulai dari phishing, pencurian kredensial, hingga ransomware.

Phishing Kini Lebih Meyakinkan

Salah satu metode yang paling sering digunakan dalam kejahatan digital adalah Phishing. Pada masa lalu, email phishing biasanya relatif mudah dikenali karena berisi kesalahan ejaan, kalimat yang tidak rapi, atau tautan yang tampak mencurigakan.

Namun dengan bantuan AI dan Machine Learning, pelaku serangan kini dapat membuat pesan yang terlihat jauh lebih meyakinkan. Email yang dikirim bahkan dapat disesuaikan dengan profil target tertentu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penjahat siber bisa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terbuka seperti situs perusahaan, media sosial, atau profil profesional. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk membuat pesan yang terasa personal dan relevan dengan korban.

Akibatnya, karyawan perusahaan bisa menerima email yang menyebutkan jabatan mereka, proyek yang sedang dikerjakan, atau bahkan nama rekan kerja mereka. Tingkat personalisasi seperti ini membuat banyak orang sulit membedakan mana pesan asli dan mana yang merupakan upaya penipuan.

Halaman Selanjutnya

“AI menghilangkan banyak tanda peringatan yang dulu sering digunakan orang untuk mengenali phishing,” jelasnya lagi. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |