Jakarta, VIVA – Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia mendorong pelaku industri pertambangan meningkatkan efisiensi modal dan mempercepat adopsi teknologi guna mendukung operasional. Hal itu dilakukan untuk menghadapi tekanan geopolitik, volatilitas biaya, serta tuntutan transformasi industri.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang ESDM Aryo Djojohadikusumo mengatakan, dinamika geopolitik global turut memengaruhi anggaran, proyeksi keuangan, hingga ketahanan bisnis perusahaan pertambangan. Terutama melalui perubahan harga dan ketersediaan bahan bakar. Investasi teknologi dinilai perlu diarahkan kepada peningkatan produktivitas dan daya saing, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Banyak perusahaan pertambangan di ekosistem Kadin bertahan karena mereka sudah mengantisipasi masa depan. Apa yang sebelumnya hanya menjadi proyek percontohan, kini menjadi kebutuhan operasional,” ujar Aryo dalam Energy Insights Forum bertajuk The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification, dikutip dari keterangannya, Kamis, 10 September 2026.
Menurutnya, inovasi menjadi salah satu kunci untuk membangun ketahanan bisnis pertambangan dalam menghadapi ketidakpastian jangka panjang. “Dari apa yang saya pelajari dari perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia, tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun ketahanan dan kekuatan jangka panjang selain dengan berinovasi,” kata Aryo.
Volatilitas harga bahan bakar dan komoditas membuat perusahaan pertambangan semakin selektif dalam menentukan belanja modal atau capital expenditure (capex).
Senada, Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan menilai transformasi industri pertambangan juga membutuhkan rencana eksekusi yang jelas, terutama dalam penerapan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan elektrifikasi.
“Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keunggulan sumber daya. Kita harus bergeser dari resource advantage menuju intelligence advantage. AI menjadi salah satu cara untuk meningkatkan skala ekonomi, produktivitas, dan memperkuat daya saing industri,” ujar Dany.
Menurut Dany, penerapan AI perlu diarahkan kepada kebutuhan operasional dan tidak berhenti sebagai pengembangan teknologi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
MIND ID mulai mengembangkan sejumlah pemanfaatan AI, antara lain untuk meningkatkan keselamatan kerja, memantau kondisi peralatan, dan mengoptimalkan proses produksi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemetaan McKinsey & Company yang melihat sumber pertumbuhan industri pertambangan mulai bergeser dari sekadar peningkatan volume menuju penciptaan nilai baru melalui mineral kritis, teknologi, dan efisiensi operasional.
Halaman Selanjutnya
Pada sesi bertajuk From Volume to Value: Winning the Next Decade of Metals & Mining, Partner McKinsey & Company Yanto dan Associate Partner Narendra Adoe membahas perubahan sumber pertumbuhan industri mineral global, mulai dari mineral fundamental hingga mineral kritis yang membutuhkan teknologi baru.

1 hour ago
1











