Tren Kasus Bunuh Diri Tentara Israel Meningkat, Diduga Dipicu PTSD akibat Perang Berkepanjangan

4 hours ago 2

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:20 WIB

VIVA –Sebuah laporan menyebut militer Israel tengah menghadapi peningkatan kasus bunuh diri di kalangan tentara yang terus terjadi dan kian menghawatirkan. Tren peningkatan kasus bunuh diri ini dikaitakan dengan meluasnya gangguan stress pascatrauma atau PTSD yang dipicu oleh operasi militer berkepanjangan dan berulang di berbagai wilayah konflik.

Dalam data yang dipublikasikan oleh Haaretz, tahun ini hampir 10 tentara dilaporkan mengakhiri hidupnya dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, pada April kemarin setidaknya ada enak tentara aktif dan tiga tentara cadangan yanng sudah tidak bertugas meninggal karena bunuh diri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Setidaknya 10 tentara aktif telah meninggal karena bunuh diri sejak awal tahun, termasuk enam pada bulan April. Tiga tentara lain yang bertugas sebagai cadangan selama perang juga meninggal karena bunuh diri bulan April meski sudah tidak lagi aktif. Dua petugas polisi, termasuk satu anggota Polisi Perbatasan wajib militer, juga meninggal karena bunuh diri bulan April kemarin,” tulis Haaretz, dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 1 Mei 2026.

Sebelumnya pada awal tahun ini, media tersebut mencatat total 22 kasus bunuh diri tentara sepanjang 2025. Angka ini tercatat paling tinggi dalam 15 tahun terakhir.

Tren ini semakin meningkat setelah 7 Oktober 2023, saat Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza. Sejak itu, agresi militer Israel mulai dari Gaza hingga Lebanon dan Suriah memperparah krisis kesehatan mental di dalam tubuh militer.

Meski skala krisisnya besar, laporan tersebut menyebut militer Israel justru mengurangi dukungan kesehatan mental bagi tentara. Hal ini bertolak belakang dengan klaim yang disampaikan pemerintah setempat ke publik. Sesi evaluasi psikologis wajib bagi tentara cadangan bahkan dihentikan pada Februari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Setelah perang dengan Iran dan peningkatan anggaran militer, pihak militer memutuskan untuk mengembalikan sesi evaluasi tersebut, meski tidak dilakukan secara menyeluruh,” tulis laporan itu.

Meski demikian, Haaretz juga mendokumentasikan sejumlah kasus tentara Israel di perbatasan Lebanon dan wilayah Tepi Barat dipulangkan dalam beberapa pekan terakhir tanpa sempat mendapatkan penanganan dari tenaga profesional kesehatan mental.

Halaman Selanjutnya

Seorang sumber militer mengatakan bahwa pihak berwenang kesulitan mengambil langkah efektif untuk mengurangi fenomena ini, terutama dalam kasus tentara yang mengalami tekanan namun tidak mencari bantuan profesional.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |