Jakarta, VIVA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan telah menutup sekitar 1.300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam tiga minggu terakhir.
Penutupan dilakukan sebagai bagian dari evaluasi terhadap dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan BGN. Langkah tersebut juga menjadi upaya mencegah terulangnya kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program MBG.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, sekitar 800 SPPG telah ditutup sebelumnya dan kembali ada 500 dapur yang ditutup dalam evaluasi terbaru.
"Jadi sudah saya sudah menutup mungkin 800, tambah kemarin saya sudah menutup 500, jadi sudah 1.300 saya tutup selama tiga minggu saya jadi kepala," kata Sudaryono sebelum upacara penurunan bendera HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026).
Dapur MBG yang Tak Bisa Diperbaiki Bakal Ditutup Permanen
Sudaryono menegaskan penutupan tidak hanya dilakukan sebagai tindakan sementara. SPPG yang tidak dapat diperbaiki atau tidak mampu memenuhi standar BGN dapat ditutup secara permanen.
Menurutnya, standar keamanan makanan dalam program MBG tidak dapat ditawar karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan penerima manfaat.
"Manakala masih ada yang belum, ndak mau diperbaiki ya mohon maaf, demi nyawa seseorang, demi kesehatan seseorang, demi pemenuhan gizi seluruh anak-anak kita, demi primanya program ini, maksudnya baik, tujuannya baik, tapi pelaksanaannya nggak bisa kau ikuti, ya terpaksa harus, harus ditutup permanen," tegasnya.
BGN melakukan evaluasi terhadap dapur-dapur yang masih memiliki kekurangan. Jika persoalan dapat diperbaiki dan standar dapat dipenuhi, operasional SPPG dapat terus berjalan. Namun, apabila tidak dapat memenuhi ketentuan, penutupan permanen menjadi pilihan.
BGN Tak Mau Hanya Andalkan Cek Bau dan Rasa
Sudaryono juga menyoroti metode pemeriksaan makanan sebelum disajikan. Menurutnya, pemeriksaan secara organoleptik dengan melihat bau, rasa, atau mencicipi makanan saja tidak selalu cukup untuk memastikan makanan aman dikonsumsi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia mencontohkan kasus yang terjadi di Berastagi, Sumatera Utara, yang menjadi salah satu bahan evaluasi BGN.
Makanan dapat terlihat normal ketika diperiksa secara organoleptik, tetapi tetap berpotensi menimbulkan masalah setelah dikonsumsi.
Halaman Selanjutnya
"Jadi bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi di bau, di rasa, dicicipi, ya. Sudah di bau nggak ada masalah, dicicipi juga nggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi," ujarnya.

6 days ago
21
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

