Jakarta, VIVA – Pameran GIIAS 2026 telah berakhir, tetapi sejumlah perubahan yang terlihat selama pameran berpotensi terus terasa di pasar otomotif Indonesia. Kehadiran banyak model baru, pertumbuhan kendaraan elektrifikasi, hingga semakin ketatnya persaingan antarmerek menjadi gambaran pasar otomotif yang sedang memasuki fase baru.
Dari rangkuman VIVA Otomotif Selasa 11 Agustus 2026, hal pertama yakni pasar mobil mulai kembali bergerak naik. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 517.742 unit, naik 18,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 437.544 unit.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dari sisi retail sales, penjualan tujuh bulan pertama tahun ini mencapai 511.514 unit atau meningkat 12,3 persen dari 455.667 unit pada periode yang sama 2025. Khusus Juli, wholesales mencapai 81.115 unit atau naik 33,3 persen secara tahunan, sedangkan retail sales 77.412 unit atau tumbuh 23,1 persen.
"Kalau dilihat memang trennya membaik. Pertumbuhan ekonomi juga makin membaik dan saya pikir daya beli masyarakat mulai tumbuh," ujar Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, dikutip VIVA Otomotif, Senin 10 Agustus 2026.
Perubahan kedua adalah pilihan mobil listrik bakal semakin beragam. Data Gaikindo yang dipaparkan belum lama ini menunjukkan BEV sudah mengambil porsi 15,97 persen dari pasar pada Januari-Juni 2026, sementara total kendaraan elektrifikasi atau xEV mencapai 26,82 persen.
Pertumbuhan tersebut terjadi ketika semakin banyak model dan merek menawarkan kendaraan elektrifikasi di berbagai segmen. Materi Industri Baterai Indonesia (IBC) juga menunjukkan jumlah model BEV yang tersedia di Indonesia meningkat dari sekitar lima menjadi lebih dari 30 model sepanjang 2023-2025.
Ketiga, persaingan otomotif bergeser dari sekadar mesin ke teknologi. Kendaraan listrik membuat baterai, perangkat lunak, semikonduktor, kecerdasan buatan, dan ekosistem kendaraan menjadi bagian penting dari persaingan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto, menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran dari mechanical engineering industry menuju software-enabled mobility industry.
Dalam fase baru ini, produsen tidak hanya bersaing melalui tenaga mesin atau desain. Kemampuan menekan biaya baterai, mengembangkan teknologi, membangun perangkat lunak, serta memiliki rantai pasok yang efisien akan semakin menentukan daya saing.
Halaman Selanjutnya
Keempat, persoalan impor mobil listrik akan semakin mendapat perhatian. Pertumbuhan BEV di Indonesia masih cukup banyak dipenuhi kendaraan impor utuh atau Completely Built Up (CBU).

2 weeks ago
3
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

