73 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Selatan, Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla

3 hours ago 3

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:31 WIB

Banjarmasin, VIVA – Sebanyak 73 titik panas atau hotspot tercatat ada di Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebanyak 14 titik diantaranya berada di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Temuan tersebut menjadi perhatian karena kondisi musim kemarau meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah meminta seluruh pemegang PBPH segera memastikan kondisi di lapangan setiap kali muncul indikasi hotspot.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data tersebut diperoleh melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berdasarkan pemantauan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus 2026.

Seluruh 73 titik panas yang terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan (confidence) kategori medium. Dari jumlah tersebut, 14 titik berada di kawasan PBPH. Informasi mengenai titik-titik panas tersebut telah diteruskan kepada masing-masing pemegang PBPH untuk dilakukan pengecekan secara langsung.

Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru Wahyu Nurhidayat mengatakan keberadaan hotspot menjadi salah satu instrumen penting untuk mendeteksi potensi karhutla sejak dini.

"Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja PBPH perlu segera diverifikasi di lapangan. Informasi hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal," ujar Wahyu, dikutip Minggu, 16 Agustus 2026.

Namun, dia mengingatkan masyarakat maupun pengelola kawasan tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap hotspot merupakan kebakaran. Titik panas merupakan indikator anomali suhu yang masih harus dibuktikan melalui pengecekan lapangan.

"Prinsipnya, jangan menunggu api membesar. Ketika terdapat informasi hotspot di dalam atau di sekitar areal kerja, segera lakukan pengecekan. Jika ditemukan indikasi kebakaran, lakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak terkait sesuai ketentuan," tutur dia.

Kemenhut menekankan verifikasi lapangan menjadi langkah penting setelah sistem satelit mendeteksi titik panas. Pengecekan tersebut diperlukan untuk memastikan apakah anomali suhu yang terdeteksi benar-benar berkaitan dengan kebakaran atau disebabkan faktor lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

BPHL Wilayah XI Banjarbaru juga mendorong pemegang PBPH memperkuat kesiapsiagaan, termasuk memastikan patroli, personel, serta sarana dan prasarana pengendalian karhutla siap digunakan.

Selain itu, koordinasi antarpengelola kawasan juga terus didorong, terutama jika titik hotspot berada di kawasan yang saling berdekatan. Pemerintah menilai pencegahan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar.

Halaman Selanjutnya

Pemantauan satelit, verifikasi lapangan, hingga respons cepat menjadi satu rangkaian yang harus berjalan bersamaan untuk mencegah kebakaran meluas.nLangkah tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang mendorong perlindungan hutan berbasis data dan kolaborasi berbagai pihak.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |