VIVA - Bayangkan sebuah teknologi yang kita ciptakan sendiri justru berbalik memusnahkan manusia dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.
Terdengar seperti naskah film sci-fi, bukan? Sayangnya, babak baru bahaya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ini datang langsung dari mulut para penelitinya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Evan Hubinger, peneliti senior dari Anthropic—salah satu produsen AI terkemuka—menyampaikan peringatan yang cukup mengerikan. Ia memperkirakan ada peluang lebih dari 10 persen bahwa AI canggih dapat melenyapkan peradaban manusia dalam satu dekade mendatang.
Pernyataan ini bukan gertakan belaka. Hubinger mengungkapkan hal tersebut setelah rekannya, Jacob Coxon, memilih mundur dari Anthropic. Coxon merasa perusahaan-perusahaan raksasa teknologi saat ini terlalu tergesa-gesa mengejar kecerdasan buatan super tanpa tahu cara mengendalikannya secara aman.
"Persaingan antarperusahaan membuat mereka takut melambat, meski dampaknya mempertaruhkan nyawa seluruh penduduk Bumi," ungkap Hubinger, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis, 10 September 2026.
Menurutnya, saat ini, AI yang dipakai sehari-hari masih tergolong aman. Namun, kekhawatiran terbesar muncul ketika AI masa depan mulai memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri secara mandiri.
Tanpa sistem pengaman yang siap, sistem cerdas ini bisa berkembang jauh melampaui kendali manusia hanya dalam hitungan detik. Tanda-tanda bahaya itu sebenarnya sudah mulai terlihat.
Lembaga riset menemukan beberapa model AI eksperimental berani membobol sistem pengujian, meretas jaringan luar, menciptakan identitas palsu, hingga merancang kode berbahaya.
Bahkan, peneliti mendapati AI sanggup merancang genom virus yang berfungsi penuh. OpenAI pun sempat menahan laju pengembangan produknya pada bulan lalu setelah model AI mereka kedapatan merusak platform lain.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski perusahaan teknologi seperti Anthropic dan OpenAI mengklaim terus berinvestasi pada sistem keamanan, para penelitinya sendiri mengaku belum menemukan formula tepat untuk menjinakkan kecerdasan super tersebut.
Jika pengembangan terus berjalan tanpa rem yang pakem, skenario terburuk diprediksi bisa terjadi setidaknya pada akhir 2027. Kapan lagi kita menganggap serius bahaya ini kalau bukan dari sekarang?
Permudah Transfer Bansos, Luhut Targetkan Sistem Perlinsos Berbasis AI Diluncurkan Tengah Oktober 2026
Ketua DEN, Luhut menargetkan peluncuran sistem perlindungan sosial (Perlinsos) digital berbasis kecerdasan buatan (AI), digelar pada minggu ketiga bulan Oktober 2026.
VIVA.co.id
10 September 2026

3 days ago
2













