AI Diprediksi Ciptakan Pengangguran Massal, Kelas Menengah Paling Terpukul

3 weeks ago 7

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:05 WIB

Jakarta, VIVA – Pendiri dan CEO Khan Academy, Salman Khan, menilai revolusi AI akan menghantam pasar kerja lebih cepat dan lebih keras dari perkiraan banyak orang. Sebelumnya, ilmuwan komputer Geoffrey Hinton, yang kerap dijuluki 'godfather of AI', juga telah memperingatkan bahwa teknologi ini bisa memicu pengangguran massal. 

Menurut Khan, bahkan penurunan kecil saja sudah berbahaya. “Jika pekerjaan white collar (kerah putih) menyusut bahkan hanya 10 persen, itu akan terasa seperti depresi ekonomi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari Fortune, Jumat, 13 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Khan menilai, dampaknya bukan hanya pada angka pengangguran, tetapi juga pada identitas sosial. Banyak pekerja profesional telah menikmati gaji kelas menengah atas selama dua dekade terakhir.

“Mereka telah memperoleh gaji kelas menengah atas yang mapan selama 20 tahun terakhir,” ujarnya. “Identitas mereka terikat pada pekerjaan itu. Dan sekarang, tiba-tiba, Anda akan melihat pergeseran besar di pasar kerja.”

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Studi tahun 2025 dari Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa AI berpotensi menggantikan hampir 12 persen tenaga kerja di Amerika Serikat, hampir tiga kali lipat dari tingkat saat ini.

Di sisi lain, sebagian pemimpin industri teknologi, termasuk CEO SpaceX, Elon Musk, memprediksi artificial general intelligence (AGI) atau AI yang mampu menyamai atau melampaui kecerdasan manusia, bisa hadir tahun ini. 

Menurut Khan, ancaman ini tidak terbatas pada pekerja kantoran. Ia mengaku sering mendengar diskusi tertutup di kalangan pemimpin industri teknologi. “Orang-orang di balik pintu tertutup membicarakan hal-hal yang cukup berani akhir-akhir ini,” katanya. “Saya mendengar orang mengatakan Anda bisa melakukan pekerjaan yang sama hanya dengan seperempat dari jumlah tim.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Otomatisasi berbasis robotik dan kendaraan tanpa pengemudi juga diprediksi mempercepat disrupsi. Perusahaan seperti Waymo dan Tesla telah mengembangkan mobil tanpa sopir di berbagai wilayah Amerika Serikat. Jika adopsinya meluas, lebih dari satu juta pengemudi rideshare berpotensi terdampak.

Data terbaru menunjukkan ekonomi memang belum memasuki fase krisis. Tingkat pengangguran di AS justru turun menjadi 4,3 persen. Namun tanda-tanda awal sudah terlihat, di mana sekitar 55.000 pemutusan hubungan kerja tahun lalu dikaitkan dengan implementasi AI, termasuk Salesforce yang memangkas 4.000 pekerja layanan pelanggan setelah menerapkan sistem AI.

Kantor Microsoft.

Ngeri! Bos Microsoft Ramal AI Bakal Gantikan Pekerja Kantoran Dalam Waktu Dekat

CEO AI Microsoft memprediksi mayoritas pekerjaan white collar akan diautomatisasi dalam 12–18 bulan. Investasi Rp2.268 triliun di OpenAI jadi bukti keseriusan.

img_title

VIVA.co.id

13 Februari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |