Anindya Bakrie di KTT BRICS: Indonesia Tak Mau Cuma Jadi Pasar

1 day ago 5

Sabtu, 12 September 2026 - 23:00 WIB

New Delhi, VIVA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie membawa visi Presiden Prabowo Subianto mengenai hilirisasi, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan kemandirian ekonomi ke panggung BRICS Business Forum di New Delhi, India.

Di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta sejumlah pemimpin dunia lainnya, Anindya menegaskan Indonesia ingin ikut menentukan arah kerja sama ekonomi BRICS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Anindya yang akrab disapa Anin menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya pada Jumat, 11 September 2026, dalam sesi yang membahas pengembangan perdagangan dan jasa intra-BRICS.

“Kami sangat senang dan merasa terhormat bahwa Indonesia telah bergabung dengan keluarga BRICS berkat Presiden Prabowo. Indonesia sekarang memiliki chapter yang sangat aktif dalam BRICS Business Council,” ujar Anin, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 12 September 2026.

Menurut Anin, masuknya Indonesia sebagai anggota BRICS membuka ruang lebih besar bagi dunia usaha nasional untuk memperluas perdagangan, investasi, industri, teknologi, dan jasa. Indonesia juga telah memiliki chapter aktif dalam BRICS Business Council yang dapat digunakan untuk mendorong kepentingan tersebut.

Namun, Anin menekankan, besarnya potensi BRICS harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat. BRICS kini merepresentasikan hampir separuh populasi dunia dan sekitar 40 persen perekonomian global.

“Ketika kita berbicara tentang BRICS, kita berbicara tentang hampir separuh umat manusia dan sekitar 40 persen perekonomian dunia. Kita memiliki kekuatan ekonomi untuk membentuk masa depan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan lebih banyak orang dapat mengambil bagian di dalamnya,” kata Anin.

Anin menilai integrasi ekonomi BRICS tidak cukup berhenti pada kesepakatan politik maupun target perdagangan. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada kemudahan yang dirasakan perusahaan ketika melakukan aktivitas lintas negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertanyaan mendasarnya, kata dia, adalah apakah perusahaan Indonesia dapat dengan mudah menemukan mitra di negara BRICS lainnya, memasuki pasar, memperoleh layanan yang dibutuhkan, dan menerima pembayaran secara cepat serta aman.

Karena itu, Anin melihat sektor industri dan jasa sebagai dua sektor yang saling menguatkan.

Halaman Selanjutnya

Sebuah pabrik tidak hanya membutuhkan bahan baku dan mesin, tetapi juga teknologi, pembiayaan, perangkat lunak, logistik, serta tenaga kerja terampil. Sebaliknya, ekspansi industri akan menciptakan permintaan baru terhadap berbagai jenis jasa.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |