Apa Itu Interseksionalitas? Perspektif Baru untuk Mencapai Kesetaraan di Momen Women’s Day 2026

5 days ago 2

Jumat, 6 Maret 2026 - 11:50 WIB

VIVA – Perempuan modern sering kali menjalani banyak peran sekaligus dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa menjadi profesional di tempat kerja, pengambil keputusan dalam tim, sekaligus memiliki tanggung jawab personal di rumah. 

Di tengah dinamika tersebut, percakapan tentang kesetaraan, keberagaman, dan kepemimpinan yang lebih inklusif mulai semakin sering dibicarakan dalam dunia profesional. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belakangan, konsep interseksionalitas ikut menjadi sorotan dalam diskusi tentang karier dan kepemimpinan. Interseksionalitas melihat bahwa identitas seseorang tidak berdiri sendiri, tetapi saling beririsan, mulai dari gender, usia, latar belakang pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi, yang pada akhirnya memengaruhi pengalaman seseorang dalam bekerja dan berkembang.

Isu ini menjadi salah satu topik yang diangkat dalam diskusi kepemimpinan inklusif bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional“. Diskusi tersebut digelar dalam rangka peringatan International Women’s Day 2026 oleh UNIQLO dan Indonesia bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).

Percakapan mengenai interseksionalitas juga berkaitan erat dengan konsep Diversity, Equity & Inclusion (DEI) yang kini semakin banyak dibicarakan di lingkungan kerja. Namun, pendekatan interseksional menantang organisasi untuk melihat keberagaman tidak hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Wita Krisanti, Executive Director of IBCWE, menjelaskan bahwa keberagaman sebenarnya memiliki banyak lapisan yang sering kali tidak terlihat. “Intersectionality ini penting untuk menjadi bahan pertimbangan saat kita berbicara atau melihat aspek dari diversity, equity, dan inclusion,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini. 

Ia menambahkan bahwa selama ini keberagaman sering kali dipahami hanya dari hal-hal yang kasat mata, seperti usia atau penampilan fisik. “Nah, selama ini kita hanya bisa melihat keberagaman itu dari sisi yang terlihat oleh mata. Ada yang beruban, ada yang rambutnya mirip dengan saya, asimetris, atau sudah ada ubannya sehingga kemudian orang berasumsi, oh dia sudah sangat tua sehingga kalau naik TJ perlu duduk di kursi prioritas. Padahal yang mungkin rambutnya masih hitam semuanya, belum tentu (kuat atau sehat) secara fisik,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, hal-hal yang terlihat tersebut sebenarnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan identitas seseorang. “Jadi ini berbagai aspek diversity yang terlihat itu hanya fenomena gunung es, sementara di bawahnya masih banyak lagi yang belum terlihat. Bagaimana caranya kita tahu? Tentunya itu dengan proses komunikasi,” katanya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |