Jakarta, VIVA – Rumah Tani Nusantara (Rumah Tani) menunjukkan komitmen nyatanya sebagai penampung hasil panen (offtaker) terdepan di Indonesia.
Melalui strategi pemotongan rantai distribusi yang panjang, perusahaan ini berhasil menyerap sekitar 38.000 ton komoditas pertanian per tahun langsung dari tangan petani di berbagai daerah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Langkah ini sekaligus menjadi solusi konkret atas ancaman anjloknya harga saat musim panen raya.
Direktur Operasional Rumah Tani, Mohammad Dwijanuarto, menegaskan bahwa kehadiran perusahaan bertujuan untuk memberikan nilai tambah nyata bagi para petani.
"Kami hadir untuk memotong rantai pasok yang selama ini terlalu panjang dan merugikan petani. Dengan menyerap langsung 38.000 ton komoditas setiap tahunnya, kami ingin memastikan petani mendapatkan harga yang adil dan terlindungi dari ancaman anjloknya harga saat panen raya," ujar Mohammad Dwijanuarto.
Solusi Mengatasi Masalah Komoditas dan Tengkulak
Untuk komoditas jagung, Rumah Tani menyediakan fasilitas pengering (dryer) guna mengatasi kendala tingginya kadar air saat musim hujan dan menggunakan mesin pipil jagung (corn sheller).
Desain mesin yang dilengkapi roda penggerak memungkinkannya memiliki mobilitas tinggi untuk menjangkau titik-titik panen mitra tani.
Hal ini akan secara signifikan mempercepat proses pemipilan dan menjaga kualitas komoditas sebelum masuk ke tahap distribusi untuk efektifitas mencegah kejatuhan harga di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).
Sementara pada komoditas kentang asal Aceh, Karo, dan Dieng, Rumah Tani membeli seluruh hasil panen dengan harga standar pasar. Dwijanuarto menyampaikan bahwa skema ini terbukti membebaskan para petani dari jeratan tengkulak yang kerap memanfaatkan besarnya biaya operasional budidaya.
Jaminan Harga Minimum dan Distribusi Cepat
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Rumah Tani juga menyiasati fluktuasi ekstrem harga cabai dengan memberikan jaminan harga minimum bagi mitra tani. Ketika harga pasar merosot tajam, perusahaan tetap membeli cabai sesuai harga kesepakatan awal agar petani tidak merugi. Cabai tersebut kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar induk daerah dan jaringan ritel ternama seperti Mie Gacoan, Rumah Sayur, hingga AgriPost.
Strategi efisiensi rantai pasok ini berlanjut pada komoditas bawang merah dan alpukat premium asal Takengon, Aceh. Rumah Tani membeli langsung dari petani, melakukan penyortiran (grading) standar mutu tinggi, lalu menyalurkannya ke konsumen, ritel modern, industri, hingga platform e-commerce seperti Shopee.
Halaman Selanjutnya
"Kami memastikan setiap komoditas terserap dengan baik, didistribusikan secara efisien, serta didukung oleh sistem pembayaran yang adil untuk terus menjaga semangat para petani di lapangan," tambah Dwijanuarto.

2 weeks ago
17
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

