Jakarta, VIVA – Dalam upaya mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur, PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) bersama Lembaga Amil Zakat Al Azhar (LAZ Al Azhar) kembali berkolaborasi.
Sinergi keduanya dilakukan dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa renovasi 11 ruang kelas sekolah dan pembangunan musala di Kabupaten Nagekeo.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Bantuan ini diharapkan dapat memulihkan akses pendidikan bagi lebih dari 200 siswa serta menghadirkan kembali musala bagi masyarakat setempat," kata Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama dalam keterangannya, Rabu, 16 September 2026.
Rumah rusak akibat gempa NTT
Dia pun menyampaikan keprihatinannya atas bencana yang menimpa saudara-saudari di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah lain pun tak berhenti pada bantuan darurat, tapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sekolah dan musala adalah 2 ruang yang menjadi denyut kehidupan sebuah masyarakat, tempat anak-anak kembali belajar dan tempat masyarakat kembali berkumpul.
"Inilah wujud nyata dari nilai ta’awun, yaitu saling tolong menolong, yang menjadi landasan kami dalam menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia," ujarnya.
Sementara Direktur Utama Lembaga Amil Zakat & Wakaf Al Azhar, Ali Subkhan menambahkan, komitmen Lembaga Amil Zakat Al Azhar tentunya sejalan dengan Prudential Syariah, dalam memberikan dukungan terbaik untuk masyarakat Indonesia.
"Dukungan ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memberikan perlindungan selama proses pemulihan pasca bencana. Melalui bantuan ini, kami berharap dapat meringankan beban yang diterima masyarakat akibat terdampak bencana," ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Diketahui, gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 berdampak langsung pada layanan dasar masyarakat di Kabupaten Nagekeo. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo mencatat 328 sekolah mengalami kerusakan, sehingga sebagian besar siswa masih harus belajar di pos pengungsian maupun rumah warga yang tidak terdampak.
Kondisi serupa juga dialami ruang ibadah masyarakat, dengan Kementerian Pekerjaan Umum mencatat 300 unit rumah ibadah rusak di wilayah terdampak gempa Flores, termasuk di Kabupaten Nagekeo, sehingga kegiatan ibadah dan pertemuan warga terpaksa dilakukan di ruang terbuka maupun tenda darurat.2
Halaman Selanjutnya
Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang apabila tidak segera dipulihkan. Riset menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur pendidikan yang berkepanjangan meningkatkan risiko anak putus sekolah dan masuk ke dunia kerja pada usia dini — dan semakin lama masa jeda belajar berlangsung, semakin kecil kemungkinan anak kembali bersekolah. Sekitar 30% korban bencana alam di Indonesia adalah anak-anak.

2 hours ago
2











