Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:55 WIB
VIVA - Bukan Donald Trump kalau tidak berhenti membuat sensasi. Presiden Amerika Serikat (AS) itu, secara gamblang dan meyakinkan, bakal menjadikan Selat Hormuz sebagai negara bagiannya.
Baginya itu hal sepele. Tapi, harus diingat. Selat Hormuz adalah jalur perairan internasional di Timur Tengah. Iran satu di antaranya. Apa yang dikatakan Trump bak menggantang asap. Mengerjakan sesuatu yang hasilnya hampa atau sia-sia. Mengapa demikian?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Seperti diketahui, AS Bersama Israel dan Iran terlibat perang dan masih berlangsung hampir enam bulan. Konflik ini, hingga sekarang, belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, kendati beberapa kali dilakukan gencatan senjata.
Perang ini telah memicu kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas lainnya di seluruh dunia. Iran berulang kali menyatakan tidak akan membuka Kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur perairan sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman sampai AS mencabut blokade.
Iran juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan pengelolaannya, sementara Donald Trump menghadapi tekanan semakin besar di internal negaranya untuk mengakhiri perang yang tidak disukai itu.
Pernyataan Trump yang ingin mencaplok Selat Hormuz, lalu dibalas menohok oleh pejabat Iran level wakil menteri. Adalah Kazem Gharibabadi yang menegaskan Selat Hormuz tidak dapat direbut hanya dengan sebuah cuitan, pengerahan kapal induk, perintah, atau pun pidato kampanye pemilihan umum presiden (pilpres).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Iran tidak takut terhadap ancaman dan tidak dapat diintimidasi oleh unjuk kekuatan. Selat Hormuz itu milik Iran, sekarang milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran. Sampai kalian menerima kenyataan mengenai kekalahan kalian dan meninggalkan fantasi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade di Selat Hormuz,” tegas Gharibabadi, yang menjabat sebagai wakil Menteri luar negeri (wamenlu) Iran.
Ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut meningkat setelah Iran memperketat pengawasan pada 28 Februari. Saat itu, Iran melarang kapal-kapal yang dimiliki atau memiliki afiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas secara aman di Selat Hormuz.
Halaman Selanjutnya
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap wilayah Iran. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi global. Pernyataan terbaru dari kedua negara menunjukkan ketegangan terkait akses pelayaran di kawasan tersebut masih berlangsung.

2 hours ago
1
















