dr. Sumy Hastry Ungkap Perbedaan Proses Eksekusi Mati Freddy Budiman dan Pelaku Bom Bali I, Tak Disangka

3 hours ago 1

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:19 WIB

VIVA – Eksekusi mati Freddy Budiman pada 29 Juli 2016 di Lapas Nusakambangan masih menjadi salah satu momen paling menyita perhatian publik. Dokter forensik Polri, Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, mengungkap detik-detik pelaksanaan hukuman mati tersebut, mulai dari persiapan terpidana hingga proses regu tembak menjalankan eksekusi.

Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F.M., yang menjabat sebagai Karolabdekkes Pusdokkes Polri sekaligus dokter forensik, membagikan pengalamannya saat menjadi bagian dari tim medis dalam pelaksanaan hukuman mati di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengungkapkan, salah satu eksekusi terakhir yang pernah ditanganinya adalah pelaksanaan hukuman mati terhadap Freddy Budiman bersama dua warga negara asing di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan.

Freddy Budiman saat di sidang dalam kasus narkoba.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Kick Andy Show, Andy F. Noya menyinggung metode hukuman mati yang berlaku di Indonesia. Menurutnya, masyarakat lebih akrab dengan eksekusi melalui regu tembak dibandingkan metode lain seperti kursi listrik, hukuman gantung, atau suntik mati.

Ia melanjutkan bahwa selama ini berkembang anggapan hanya satu peluru yang benar-benar mematikan sehingga para penembak tidak mengetahui siapa yang mengakhiri hidup terpidana.

"Tetapi hanya satu katanya peluru yang betul-betul berisi, sehingga mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang mengakhiri hidup dari terpidana."

Andy kemudian meminta dr. Sumy Hastry menceritakan pengalamannya ketika menjadi bagian dari tim eksekusi.

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Sumy Hastry mengaku pernah ditugaskan sebagai dokter dalam pelaksanaan hukuman mati saat masih bertugas di Jawa Tengah.

"Saya pernah jadi tim eksekusi istilahnya, saya sebagai dokternya, karena saya dinas di Jawa Tengah jadi secara perintah untuk melakukan nih, kadang kan dokter nggak mau, dokter kan menolong, melihat kehidupan, kok ini melihat kematian."

Meski dihadapkan pada dilema profesi, ia tetap menjalankan tugas karena merupakan bagian dari kewajibannya sebagai anggota Polri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum eksekusi dilaksanakan, para terpidana lebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan siap, mereka dibawa ke lokasi eksekusi pada tengah malam dengan mengenakan pakaian putih.

"Ketemu mereka, dan mereka dibawa dan mereka memang kita biasa tengah malam, dan dikasih baju putih, diikat ke belakang tiang itu, sehingga datar dan saya sebagai tim dokternya memang menaruh atau titik tempel di titik yang benar-benar kena tembak langsung meninggal."

Halaman Selanjutnya

Sebagai anggota tim pelaksana, dr. Sumy Hastry mengetahui secara rinci prosedur yang dijalankan regu tembak.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |