Jakarta, VIVA - Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Sotya Astutiningsih, mengembangkan material bangunan berbasis limbah industri.
Penelitiannya terkait pemanfaatan bahan baku sekunder ini merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menyoroti bahwa lonjakan populasi dunia meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur, yang berpotensi menekan sumber daya alam (SDA). Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pemanfaatan bahan baku sekunder adalah salah satu pendekatan kunci untuk memenuhi kebutuhan produksi bahan bangunan. Bahan baku sekunder dapat berupa material keluaran dari produk samping atau limbah yang dimanfaatkan sebagai masukan pada proses produksi lain.
Limbah yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan Batu Bara, misalnya, menyumbang hampir 60 persen sumber energi di Indonesia. Residu ini bersifat reaktif yang dikenal sebagai abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
“UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer,” ungkap Sotya, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia juga menemukan bahwa lebih dari 75 persen bahan geopolimer berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak. Meski komposisi abu terbang dari tiap pembangkit berbeda-beda, bahan ini lebih hemat karena sudah berbentuk serbuk halus dan tidak perlu digiling lagi.
Penggunaannya sebagai campuran semen Portland juga lebih mudah diterapkan dan tetap kuat meski mutu bahan bakunya bervariasi, dibandingkan dengan sistem semen geopolimer.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain abu terbang, terak feronikel merupakan bahan baku sekunder paling prospektif untuk agregat beton. Terak feronikel ditimbulkan dari pengolahan bijih nikel lateritik pada smelter.
Berbagai penelitian di UI menunjukkan bahwa mortar maupun beton berbahan terak feronikel sebagai agregat memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan mortar atau beton berbahan pasir biasa atau pasir kuarsa.
Halaman Selanjutnya
Tim peneliti FTUI membuat formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus dan menggunakan terak feronikel dari proses RKEF di PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam sebagai agregat.

3 weeks ago
13










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

