Jakarta, VIVA – Persaingan industri otomotif Indonesia semakin ramai dengan kehadiran merek-merek asal China. Berdasarkan data penjualan retail Januari-Agustus 2026, kontribusi merek China sudah mendekati seperlima dari total pasar mobil baru nasional.
Data Gaikindo yang dilihat VIVA Otomotif Minggu 13 September 2026 mencatat, total penjualan mobil secara retail di Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 594.984 unit. Sementara itu, jika penjualan sejumlah merek China yang tercatat dalam periode yang sama dijumlahkan, angkanya mencapai sekitar 112 ribu unit.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dengan perhitungan tersebut, merek-merek China menguasai sekitar 18,8 persen pasar mobil retail nasional. Artinya, secara sederhana, hampir satu dari setiap lima mobil baru yang dibeli konsumen Indonesia sepanjang delapan bulan pertama 2026 berasal dari merek China.
Pertumbuhan tersebut juga menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya datang dari satu merek. Sejumlah produsen China telah memiliki volume penjualan yang cukup besar dan mulai membentuk kelompok tersendiri dalam peta pasar otomotif Indonesia.
Dari data Januari-Agustus 2026, BYD menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan penjualan retail sekitar 35.289 unit. Di bawahnya terdapat Jaecoo dengan sekitar 23.486 unit dan Geely sebanyak 12.283 unit.
Selain itu, Wuling mencatat sekitar 11.540 unit, sedangkan Chery membukukan 8.209 unit. Ada pula GAC Aion, Denza, MG, Xpeng, Jetour, GWM, DFSK, BAIC, iCar, hingga Changan yang turut berkontribusi terhadap penjualan mobil China di Indonesia.
Jika lima merek dengan volume terbesar tersebut digabungkan, penjualannya mencapai lebih dari 90 ribu unit. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mobil China di Indonesia mulai memiliki persaingan internal yang cukup beragam, tidak hanya berhadapan dengan merek Jepang, Korea Selatan, maupun Eropa.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kehadiran merek China juga semakin terlihat dari perkembangan produk yang ditawarkan. Selain mobil listrik, produsen asal Negeri Tirai Bambu menghadirkan SUV, MPV, sedan, hingga kendaraan dengan teknologi elektrifikasi seperti hybrid dan plug-in hybrid.
Perubahan komposisi pasar tersebut turut dipengaruhi oleh semakin banyaknya pilihan kendaraan dengan teknologi baru. Harga, fitur, teknologi elektrifikasi, serta strategi produksi dan distribusi menjadi sejumlah faktor yang membuat merek China semakin diperhitungkan oleh konsumen.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, pangsa pasar sekitar 18,8 persen tersebut belum berarti merek China telah mendominasi industri otomotif nasional. Sebagian besar pasar masih tetap dikuasai oleh merek-merek yang telah lama beroperasi di Indonesia.

23 hours ago
7













