Israel Bayar Rp1,78 Miliar untuk Pengaruhi Jawaban ChatGPT soal Gaza

1 week ago 2

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:28 WIB

VIVA – Israel dilaporkan menggelontorkan dana hingga puluhan juta dolar AS untuk memperbaiki citranya di Amerika Serikat.

Salah satu strategi utamanya adalah memengaruhi platform kecerdasan buatan (AI) agar menampilkan narasi yang lebih positif mengenai negeri Yahudi tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Upaya ini dilakukan di tengah merosotnya pandangan publik AS terhadap Israel, terutama setelah respons militer terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta konflik yang melibatkan Iran.

Hasil jajak pendapat Pew Research Center pada Juni 2026 menunjukkan bahwa 60 persen orang dewasa di AS tidak menyukai Israel—meningkat signifikan dari 53 persen pada tahun sebelumnya dan 42 persen pada 2022.

Tingkat ketidakpercayaan terhadap kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mencapai 65 persen.

Strategi Manipulasi Model AI

Laporan dari Politico mengungkap adanya kampanye bernilai US$100.000 (Rp1,78 miliar) yang dirancang untuk memengaruhi cara Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT dan Perplexity menjawab pertanyaan seputar konflik Gaza dan Israel.

Metode Operasi

Kampanye ini memanfaatkan situs Hanover Institute for Public Policy, yang mempublikasikan laporan anonim mengenai isu geopolitik dan antisemitisme. Materi tersebut dirancang agar dikutip oleh platform AI dan para ahli hukum saat merespons pertanyaan publik.

Aktor yang Terlibat

Proyek ini dijalankan atas nama Badan Periklanan Pemerintah Israel (LaPam) melalui agensi kehumasan asal Prancis, Havas Media, serta subkontraktornya, Piro Inc.

Keterlibatan Teknis

Penanda teknis situs web tersebut terhubung ke Res, sebuah startup AI asal Seattle yang membantu klien mengoptimalkan rekomendasi dari model AI. Keberadaan hubungan ini telah dikonfirmasi oleh CEO Res, Hai Tran.

Dokumen pendaftaran agen asing (FARA) yang diajukan ke Departemen Kehakiman AS mengonfirmasi bahwa selusin artikel di situs tersebut merupakan bagian dari kampanye penyebaran informasi untuk membentuk opini publik.

Bukan Kampanye AI Pertama

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laporan investigasi Wall Street Journal (WSJ) sebelumnya mengungkapkan bahwa Havas Media sempat mempekerjakan mantan manajer kampanye Donald Trump, Brad Parscale, dalam proyek senilai US$46,5 juta (Rp830,5 miliar).

Kampanye tersebut berfokus pada pembuatan konten pro-Israel berbasis AI serta optimalisasi situs web agar menghasilkan respons yang menguntungkan di platform AI.

Halaman Selanjutnya

Selain itu, Responsible Statecraft mencatat adanya anggaran US$900.000 (Rp16 miliar) untuk "Kampanye Influencer" dengan tujuan serupa.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |