Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:53 WIB
VIVA – Pakistan hingga saat ini masih menjadi mediator atau penengah untuk meredam konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Ada sosok diam namun senyap bergerak di dalamnya. Ia adalah Jenderal Besar Asim Munir.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump yang angkuh saja mempercayainya sebagai mediator ulung dan teman diskusi soal Selat Hormuz. Berdasarkan data VIVA, namanya mencuat ketika terjadi konflik bersenjata selama empat hari antara Pakistan dan India pada Mei 2025.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kala itu, Munir berpangkat Jenderal Penuh (bintang empat) dan menjabat kepala staf angkatan darat (KSAD/Chief of Army Staff atau COAS). Tak lama pascakonflik, Pemerintah Pakistan menaikkan pangkatnya menjadi Marsekal Lapangan (bintang lima, di Indonesia sebutannya Jenderal Besar) pada 20 Mei 2025.
Dengan begitu, menjadikannya orang kedua dalam sejarah Pakistan yang mencapai pangkat tersebut setelah Ayub Khan. Lalu, pada 4 Desember 2025, Presiden Asif Ali Zardari menunjuk Asum Munir sebagai Panglima Angkatan Pertahanan (Chief of Defence Forces/CDF), setara Panglima TNI di Indonesia, merangkap KSAD (COAS).
Langkah tersebut menempatkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Pakistan di bawah wewenangnya. Ia ditunjuk untuk memegang kedua jabatan strategis itu secara bersamaan untuk jangka waktu lima tahun.
Bukan itu saja. Asim Munir juga berpengalaman di dunia intelijen. Ketika berpangkat Mayor Jenderal, ia menjabat direktur jenderal Korps Intelijen Militer AD (MI) Periode Desember 2016 - Oktober 2018. Di Indonesia, setara Pusat Intelijen TNI Angkatan Darat (Pusintelad).
Kemudian, pangkatnya naik satu tingkat menjadi Letnan Jenderal ketika menduduki kursi direktur jenderal Badan Intelijen Utama (Inter-Services Intelligence/ISI) untuk Periode 25 Oktober 2018 - 16 Juni 2019.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
ISI memiliki peran dan fungsi serupa dengan Badan Intelijen Negara (BIN) di Indonesia dalam hal pengumpulan intelijen strategis, keamanan nasional, dan kontra-intelijen. Dengan sederet pengalaman dan jabatan strategis, seorang pengamat memberikan julukan kepada Asim Munir.
Sebagaimana diketahui, Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas situasi regional serta cara menghidupkan kembali perundingan langsung yang telah lama terhenti dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Halaman Selanjutnya
Dalam percakapan via telepon, dirinya dan Araghchi membahas “perkembangan regional serta cara-cara efektif untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Asia Barat,” demikian pemerintah Iran dalam unggahan di media sosial X.

3 days ago
12
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

