VIVA - Jerman telah menghabiskan 50 miliar Euro (Rp1.020 triliun) untuk meredam dampak kenaikan harga energi setelah memangkas impor gas Rusia pada 2022, seperti yang dilaporkan oleh Die Süddeutsche Zeitung dan Bild.
Menyusul eskalasi konflik Ukraina, Jerman secara drastis mengurangi impor gas alam Rusia, yang sebelumnya mencakup 55 persen dari konsumsinya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pergeseran ini telah mendorong kenaikan biaya energi dan berkontribusi pada kemerosotan ekonomi yang berkepanjangan, yang berdampak pada rumah tangga dan industri serta melemahkan daya saing Jerman.
Surat kabar Die Süddeutsche Zeitung, dikutip Sabtu, 12 September 2026, melaporkan bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan perkiraan sebesar Rp1.020 triliun sebagai tanggapan atas pertanyaan dari anggota parlemen Partai Hijau, Robin Wagener.
Angka tersebut mencakup langkah-langkah bantuan dan stabilisasi termasuk pembatasan harga listrik dan gas, pembayaran satu kali kepada para pensiunan, dan paket penyelamatan untuk perusahaan gas negara.
Bild juga mengutip beberapa ahli yang mengatakan bahwa dampak ekonomi keseluruhan dari krisis energi, termasuk pembangunan terminal LNG baru, kemungkinan besar "jauh lebih tinggi".
Partai oposisi Alternatif untuk Jerman (AfD) telah berulang kali mengkritik keputusan Berlin untuk melepaskan diri dari ketergantungan energi Rusia.
Ketua bersama partai, Alice Weidel, mengatakan pada Juni 2026 bahwa "energi murah dari Rusia adalah rahasia kesuksesan 'Made in Germany'."
“Hilangnya energi ini telah membuat kita mundur bertahun-tahun. Ratusan ribu pekerjaan telah hilang. Hal ini membuat kita bergantung pada Amerika Serikat (AS), yang menjual energi kepada kita dengan harga jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan pada akhir Juli 2026, kenaikan biaya energi juga mungkin berkontribusi pada meningkatnya popularitas AfD.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Studi berjudul 'Konsekuensi Politik dari Guncangan Harga Energi' tersebut menemukan bahwa “kenaikan besar dan tiba-tiba dalam biaya energi rumah tangga bertepatan dengan meningkatnya ketidakpuasan politik dan peningkatan perolehan suara bagi partai-partai populis, khususnya partai populis sayap kanan Alternative fur Deutschland (AfD)”.
Menurut analisis tersebut, warga Jerman yang mengalami kenaikan harga di atas rata-rata memiliki kemungkinan 7,5 poin persentase lebih besar untuk mendukung AfD.
Halaman Selanjutnya
Tren ini sangat kentara di bekas Jerman Timur, di mana "harga energi meningkat paling tajam," kata para peneliti, merujuk pada perolehan suara AfD di Thuringia, Brandenburg, dan Saxony pada 2023 dan 2024.

1 day ago
8













