Jakarta, VIVA – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong pemanfaatan teknologi kedirgantaraan untuk membuka keterisolasian kawasan sekaligus mengebut tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di luar Jawa.
Sejumlah teknologi kedirgantaraan misalnya seperti pemanfaatan citra satelit, pemetaan wilayah, hingga teknologi konektivitas, diharapkan bisa berdampak pada peningkatan produktivitas, investasi, pembukaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan orientasi transmigrasi kini mengalami perubahan. Program tersebut tidak lagi hanya berfokus pada perpindahan penduduk, tetapi juga pembangunan kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis industrialisasi.
“Transmigrasi saat ini, saya tidak takut memindahkan orang. Yang saya takut adalah tidak tercapai tujuannya. Concern transmigrasi saat ini adalah menciptakan pertumbuhan baru berbasis kawasan dan industrialisasi," kata Menteri Iftitah saat memberikan Kuliah Umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Halim, Jakarta Timur, dikutip Sabtu, 12 September 2026.
"Dari keterisolasian menuju pusat pertumbuhan, di situlah peran teknologi kedirgantaraan dalam transformasi kawasan transmigrasi bekerja,” tambah.
Menurut Iftitah, tantangan membangun kawasan transmigrasi tidak sederhana. Sebagian kawasan berada jauh dari pusat ekonomi dan menghadapi keterbatasan konektivitas, informasi, maupun akses terhadap teknologi.
Oleh karena itu, teknologi kedirgantaraan dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi hambatan geografis sekaligus membantu pemerintah dan masyarakat mengambil keputusan pembangunan secara lebih tepat.
Salah satu penerapannya mulai dilakukan di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Teknologi citra satelit dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan industrialisasi tebu, termasuk membantu mengidentifikasi kesesuaian lahan dan tanaman.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana,” terangnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut, menurut Menteri Iftitah, harus bermuara pada manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Data dan teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas kawasan, sementara industrialisasi menciptakan nilai tambah dari potensi lokal. Ketika industri berkembang, kebutuhan tenaga kerja meningkat, pendapatan masyarakat bertambah, dan aktivitas ekonomi baru dapat tumbuh.
Halaman Selanjutnya
“Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh,” ujarnya.

1 day ago
8













