Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:59 WIB
VIVA – Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ukraina Mykhailo Fedorov menyerukan agar pemilihan presiden (pilpres) segera digelar meski perang dengan Rusia masih berlangsung.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai tantangan politik paling serius terhadap Presiden Volodymyr Zelenskyy sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Demokrasi tidak bisa disandera oleh Rusia. Kami berperang justru untuk mempertahankan status sebagai negara Eropa yang bebas,” kata Fedorov, 35 tahun, seperti dikutip dari BBC. Sejak perang pecah pada Februari 2022, Ukraina berada di bawah status darurat militer. Kondisi tersebut membuat pilpres ditangguhkan.
Mykhailo Fedorov tidak secara langsung menyebut nama Zelenskyy. Namun, pernyataannya muncul hanya beberapa minggu setelah ia dicopot dari jabatan menhan, posisi yang baru dijabatnya selama sekitar enam bulan.
Volodymyr Zelenskyy belum memberikan tanggapan langsung. Pemecatan Fedorov telah memicu protes di sejumlah wilayah Ukraina. Seorang sumber di kantor kepresidenan mengatakan kepada BBC bahwa merencanakan pilpres di tengah serangan rudal dan drone Rusia merupakan sesuatu yang “sangat aneh” dan menunjukkan kurangnya realisme.
Mykhailo Fedorov juga menyoroti persoalan korupsi yang menurutnya telah merugikan militer Ukraina. Ia mengatakan korupsi membuat senjata dan peralatan tidak sampai kepada pasukan serta menyulitkan Kyiv memenangkan perang.
Ia menggambarkan kondisi Ukraina saat ini sebagai “krisis tata kelola sistemik” dan mengatakan negara tersebut harus mengatasi “ketakutan terhadap perubahan”.
Fedorov memperingatkan bahaya ketika masyarakat merasa bahwa pengangkatan pejabat lebih didasarkan pada loyalitas pribadi kepada sistem daripada profesionalisme, hasil kerja, dan kemampuan membawa perubahan.
Sekitar 100 demonstran berkumpul di depan gedung parlemen Ukraina pada Rabu pagi, 19 Agustus 2026. Mereka meneriakkan tuntutan agar Mykhailo Fedorov dikembalikan sebagai menhan serta menyerukan dialog antara pemerintah dan masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fedorov dikenal sebagai politikus muda dan karismatik. Saat menjabat sebagai menhan, ia mendapat pujian karena membawa energi baru ke kementerian tersebut, mendorong pemberantasan korupsi, menantang struktur militer yang dianggap ketinggalan zaman, serta memperluas penggunaan teknologi dalam perang.
Pemecatannya pada pertengahan Juli 2026 diyakini berkaitan dengan ketegangan antara dirinya dan panglima tertinggi angkatan darat, Oleksandr Syrskyi. Beberapa hari kemudian, Syrskyi juga digantikan, sementara demonstrasi yang menuntut Fedorov kembali ke jabatannya terus berlangsung.
Halaman Selanjutnya
Mykhailo Fedorov sempat ditawari posisi lain di pemerintahan, termasuk sebagai wakil perdana menteri yang menangani inovasi militer. Namun, ia menegaskan hanya bersedia kembali sebagai menhan. Jabatan tersebut kini diisi oleh Yevhenii Khmara.

1 week ago
3
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

