Jakarta, VIVA – Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) memaparkan hasil riset terkait temuan awal studi soal dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat.
Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi mengatakan, penelitian pihaknya ini melibatkan sekitar 1.800 orang tua siswa, dan memberikan gambaran awal mengenai efek mikro-harian program MBG khususnya terhadap pengeluaran rumah tangga dan kebiasaan anak.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Dalam temuan itu, sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak," kata Fajar dalam keterangannya, Jumat, 13 Februari 2026.
Research Institute of Socio-Economic Development (RISED)
"Namun sekitar 63 persen responden menyatakan, besaran penghematan tersebut masih berada di bawah 10 persen, dari total pengeluaran bulanan," ujarnya.
Dia menambahkan, temuan ini menunjukkan bahwa MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, meskipun belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan.
Dalam konteks ini, program MBG lebih berfungsi sebagai bantalan (shock absorber) konsumsi kecil, dibandingkan sebagai instrumen peningkatan daya beli yang luas. Meski dampak ekonominya masih terbatas, tingkat dukungan terhadap program tergolong kuat, terutama dari kelompok rentan.
"Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG, Dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah," kata Fajar.
Mayoritas responden juga melaporkan bahwa program berjalan relatif konsisten, dengan 84 persen menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Namun, 69 persen orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Perubahan yang paling terasa justru terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi ini.
"Evaluasi jangka menengah dan panjang masih diperlukan untuk memastikan apakah perubahan perilaku tersebut dapat terakumulasi menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi menilai, temuan awal penelitian ini adalah bahwa MBG dapat berperan sebagai instrumen pengurang tekanan pengeluaran harian keluarga kelas menengah yang relatif rentan tertekan dampak ekonomi.

3 weeks ago
10










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

