Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan

2 weeks ago 15

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:45 WIB

(Artikel Opini Ini Ditulis Kasatgas Pembentukan Pusat Studi Kepolisian STIK-PTIK Lemdiklat Polri Irjen Susilo Teguh Raharjo)

VIVA – Meneladan, glorifikasi keteladanan pahlawan dalam wacana dengan aktualisasi nilai kepahlawanan dalam perilaku sosial bukan sekedar hiasan lisan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ungkapan “Meneladani Pahlawan di Hari Kemerdekaan” merupakan frasa yang sangat lazim digunakan dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan. Namun, apabila ditinjau secara kebahasaan dan semantik, terdapat ruang untuk mempertanyakan ketepatan pilihan kata tersebut, khususnya jika maksud yang hendak disampaikan adalah mengikuti atau mengambil keteladanan dari para pahlawan.

Dalam bahasa Indonesia, akhiran “-i” memiliki berbagai fungsi dan makna, bergantung pada bentuk dasar serta konteks penggunaannya. Salah satu fungsi yang dapat muncul adalah memberikan atau melakukan suatu tindakan terhadap objek tertentu.

Karena itu, secara intuitif, kata “meneladani” dapat dipahami sebagai melakukan tindakan memberi teladan atau menjadikan sesuatu sebagai objek tindakan. Maksud yang hendak dibangun dalam konteks peringatan Hari Kemerdekaan sesungguhnya bukanlah “memberi teladan kepada pahlawan”, melainkan menjadikan nilai, sikap, perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan sebagai teladan bagi kehidupan kita.

Atas dasar itu, ungkapan “Meneladan Pahlawan” menjadi pilihan yang menarik dan secara maknawi lebih dekat dengan gagasan mengambil atau mengikuti keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan. 

Kata meneladan menempatkan subjek sebagai pihak yang belajar dari keteladanan, bukan sebagai pihak yang sekadar mengulang sebuah istilah yang telah lazim digunakan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah kata meneladani dapat atau tidak dapat digunakan. Dalam perkembangan bahasa, suatu bentuk kata dapat menjadi lazim karena frekuensi penggunaannya dan kemudian memperoleh penerimaan dalam masyarakat. Namun, kelaziman penggunaan tidak selalu identik dengan ketepatan makna yang hendak dikonstruksikan dalam suatu konteks tertentu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan demikian, penggunaan ungkapan “Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan” dapat dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk kembali pada substansi keteladanan: belajar dari keberanian para pahlawan, menghayati nilai perjuangannya, meneruskan semangat pengabdiannya, serta mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata bagi bangsa dan negara.

Hari Kemerdekaan dengan demikian tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang pahlawan, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kekinian. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada para pahlawan bukan hanya dengan menyebut nama mereka, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai perjuangan mereka melalui perilaku, pengabdian, integritas, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Halaman Selanjutnya

Setiap Hari Kemerdekaan, kita hampir selalu mendengar ungkapan “meneladani para pahlawan.” Kalimat tersebut hadir dalam pidato, spanduk, sambutan, tulisan, bahkan menjadi bagian dari berbagai kegiatan seremonial. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana keteladanan para pahlawan benar-benar hadir dalam perilaku kita?

Halaman Selanjutnya

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |