Menikmati Semesta dalam Garis dan Titik: Warisan Made Wianta Hadir di Bali

3 weeks ago 10

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:18 WIB

Bali, VIVA – Awal tahun 2026 menjadi momen reflektif bagi pencinta seni di Bali. Di tengah lanskap mewah Nusa Dua, sebuah pameran menghadirkan ruang hening untuk menyelami semesta dalam bentuk garis, titik, dan geometri. Bertajuk Gallery of Art: Wianta & Legacy, pameran ini menampilkan karya-karya mendiang Made Wianta, maestro seni kontemporer Bali yang dikenal visioner.

Dibuka untuk umum sejak 23 Januari 2026 di Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali, pameran ini berfokus pada seri ‘Mandala’—salah satu fase penting dalam perjalanan kreatif Wianta. Melalui interpretasi khasnya, ia mengajak penikmat seni memandang alam semesta sebagai ruang luas yang terhubung oleh ritme kehidupan yang utuh dan holistik. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Made Wianta (1949–2020) dikenal sebagai sosok yang berani mendobrak pakem tradisi klasik seni rupa Bali. Lahir di Tabanan, ia menjelma menjadi figur transformatif yang membawa seni Bali memasuki paradigma modern tanpa melepaskan akar budayanya. Pengalamannya menetap di Brussel pada 1975–1977 memperkaya perspektif globalnya, sekaligus mempertajam estetikanya. Ia memadukan pengaruh seni Barat dengan pemahaman mendalam tentang karawitan Bali dan lukisan wayang klasik.

Kariernya melampaui batas geografis. Ia pernah mewakili Indonesia di Venice Biennale 2003 serta berpameran di Mike Weiss Gallery, New York. Warisan pemikirannya juga terdokumentasi dalam berbagai buku seni terkemuka, mempertegas posisinya sebagai jembatan antara tradisi leluhur dan inovasi modern.

Sebelas karya yang ditampilkan dalam pameran ini merepresentasikan seri besar ketiga dalam perjalanan kreatifnya. ‘Mandala’ dalam tangan Wianta merupakan tafsir modern dari konsep “Pangider-ider”—pemujaan sembilan Dewa penjuru mata angin di Bali. Ia mengolahnya menjadi komposisi geometris yang kerap disebut sebagai “versi Asia” dari Kubisme Picasso. Namun lebih dari sekadar simbol religi, Wianta memaknai Mandala sebagai rancangan organisasi yang sempurna—sebuah lingkaran keseimbangan antara alam semesta dan kedamaian batin manusia.

Pembukaan pameran turut diwarnai dialog interaktif bersama Intan Kirana Wianta, istri mendiang seniman, didampingi kedua putrinya, Buratwangi dan Sanjiwani. Intan Wianta, seorang akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Udayana sekaligus cucu Ki Hajar Dewantara, dikenal sebagai sosok pendukung utama perjalanan kreatif suaminya.

Halaman Selanjutnya

Acara tersebut juga dimeriahkan pertunjukan dari koreografer kontemporer Ayu Anantha, pendiri Kerta Art Studio. Terinspirasi dari Mandala, ia menerjemahkan lukisan Wianta ke dalam gerak tubuh melalui konsep Sangkara, yang menjadi jembatan antara tradisi dan evolusi modern.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |