Oleh: Dr. Ananda Fortunisa, S.E.,M.Si., CHCA
Dosen Manajemen SDM Universitas Bakrie & Ibu Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus
VIVA - Pelajaran Profesionalisme dan Cinta dari Marc Cucurella
Panggung Piala Dunia 2026 yang baru saja usai menyisakan cerita menarik. Di balik sukses Marc Cucurella membawa Tim Nasional Spanyol merengkuh trofi juara, ada cerita humanis yang menggetarkan. Sebagai bek kiri kelas dunia, Cucurella tidak hanya memikirkan nilai kontrak atau gengsi klub saat mengambil keputusan karier. Pokok pikiran utamanya saat mempertimbangkan tawaran kepindahan klub adalah keberadaan sekolah inklusif dan pusat terapi autisme terbaik bagi buah hatinya yang terdiagnosa Autism Spectrum Disorder (ASD).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Keputusan Cucurella mencerminkan realitas yang dihadapi jutaan orang tua dengan anak autisme di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kami tidak sekadar mencari penghidupan, tetapi berjuang memastikan anak-anak kami tumbuh dalam ekosistem yang ramah, sistematis, dan menjamin masa depan mereka.
Namun, jika Cucurella beruntung memiliki akses keuangan dan sistem pendukung yang matang di Eropa, bagaimana dengan jutaan keluarga di Indonesia? Ketika anak-anak autisme ini tumbuh dewasa, mereka membentur tembok tebal: minimnya akses sekolah inklusi berbasis metode ilmiah dan ketiadaan sistem penyerapan tenaga kerja yang akomodatif.
Data Demografi dan Kesenjangan Pendidikan Inklusif
Menurut data World Health Organization (WHO), prevalensi autisme global mencapai 1 dari 100 anak. Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI serta hasil kajian pakar tumbuh kembang anak, diperkirakan terdapat lebih dari 2,4 juta penyandang spektrum autisme, dengan estimasi penambahan kasus baru mencapai 500 orang setiap tahunnya.
Sayangnya, dari jutaan anak tersebut, akses terhadap pendidikan khusus masih sangat terbatas. Penanganan autisme yang efektif memerlukan metode pembelajaran terstruktur yang teruji secara klinis, di antaranya:
- Applied Behavior Analysis (ABA): Mengintervensi perilaku dan membangun komunikasi fungsional melalui pembentukan kebiasaan bertahap (chaining & shaping).
- TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication-Handicapped Children): Menggunakan visual schedules dan struktur fisik ruang kelas yang jelas untuk melatih kemandirian tugas.
- Picture Exchange Communication System (PECS): Metode pertukaran simbol visual untuk mengakomodasi anak dengan hambatan bahasa non-verbal.
- Sensory Integration Therapy: Menstabilkan gangguan pemrosesan sensori agar anak fokus dalam belajar.
Halaman Selanjutnya
Tanpa penerapan metode ini di jenjang sekolah inklusi, potensi intelegensi anak autisme akan terhambat, yang berujung pada kegagalan mereka saat memasuki dunia kerja di usia dewasa.
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

1 day ago
2


















