Mobil Listrik Murah Jadi Dilema Baru Indonesia

1 week ago 10

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Jakarta, VIVA – Harga mobil listrik yang semakin kompetitif membuat kendaraan berbasis baterai lebih mudah dijangkau konsumen Indonesia. Namun, di balik peluang mempercepat elektrifikasi, pemerintah juga menghadapi dilema antara membuka keran impor EV murah atau memberikan perlindungan lebih besar agar industri kendaraan listrik dalam negeri bisa berkembang.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto. Dalam paparan yang dikutip VIVA Otomotif Kamis 13 Agustus 2026, ia menilai Indonesia perlu mencari keseimbangan antara transformasi industri, keterjangkauan harga bagi konsumen, dan daya saing manufaktur nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pilihan untuk membuka impor EV secara lebih luas memang memiliki keuntungan dari sisi konsumen. Harga kendaraan dapat menjadi lebih murah dan pilihan model semakin banyak, sehingga proses adopsi mobil listrik berpotensi berlangsung lebih cepat.

Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi bagi industri domestik. Jika pertumbuhan penjualan mobil listrik lebih banyak dipenuhi kendaraan impor utuh atau Completely Built Up (CBU), peningkatan permintaan belum tentu menghasilkan pertumbuhan produksi dan nilai tambah yang sebanding di dalam negeri.

Data yang dipaparkan menunjukkan ketergantungan tersebut cukup besar. Pangsa penjualan BEV yang berasal dari CBU meningkat dari 4 persen pada 2022 menjadi 64 persen pada Januari-Mei 2025, sementara sebagian besar kendaraan ICEV dan HEV sudah diproduksi melalui skema CKD, IKD, atau produksi lokal.

Kondisi itu membuat pertumbuhan mobil listrik memiliki dua sisi. Di satu sisi, konsumen mendapatkan lebih banyak pilihan dengan harga yang semakin kompetitif, tetapi di sisi lain industri nasional berisiko mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih kecil apabila kendaraan yang terjual tidak banyak melibatkan produksi dan komponen lokal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan, analisis yang dipaparkan dalam seminar menunjukkan pergeseran permintaan dari kendaraan bermesin pembakaran internal menuju BEV yang masih dipenuhi oleh kendaraan CBU dapat membuat output industri otomotif Indonesia turun sekitar 0,36 persen hingga 6,19 persen.

Persoalan ini muncul ketika pasar kendaraan listrik Indonesia sebenarnya sudah memasuki fase pertumbuhan yang cukup kuat. Data Gaikindo yang dipaparkan menunjukkan pangsa BEV mencapai 15,97 persen pada Januari-Juni 2026, sedangkan total kendaraan elektrifikasi atau xEV sudah mencapai 26,82 persen.

Halaman Selanjutnya

Dengan pangsa BEV yang telah melewati tipping point 10 persen, Riyanto menilai Indonesia tidak lagi cukup hanya mengejar peningkatan adopsi kendaraan listrik. Fokus kebijakan perlu mulai diarahkan pada bagaimana pertumbuhan tersebut memperkuat produksi domestik, memperdalam industri komponen, mempertahankan basis industri yang sudah ada, dan meningkatkan ekspor.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |