Jumat, 6 Maret 2026 - 19:20 WIB
Iran, VIVA –Sepasang suami istri asal China yang sedang berbulan madu terpaksa terpisah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menyebabkan penutupan wilayah udara secara luas di Timur Tengah. Situasi ini dilaporkan mengacaukan rencana perjalanan lebih dari satu juta penumpang.
Menurut South China Morning Post, pasangan pengantin baru tersebut berasal dari Provinsi Zhejiang di China timur. Mereka berangkat ke Timur Tengah pada 19 Februari untuk menikmati pemandangan matahari terbenam yang terkenal di kawasan itu. Doha menjadi destinasi terakhir dalam perjalanan mereka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pasangan itu menggunakan kredit maskapai untuk meningkatkan tiket mereka menjadi kelas bisnis dari Doha menuju Sydney, karena sang suami yang bermarga Yu bekerja di Melbourne.
Namun, kebijakan maskapai membuat mereka tidak bisa mendapatkan kursi dalam penerbangan yang sama. Sang istri yang bermarga Zheng mendapatkan tiket penerbangan pukul 09.00 pada 28 Februari, sementara Yu baru mendapat jadwal penerbangan yang sama tetapi pada hari berikutnya.
Di saat yang bersamaan pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu gangguan besar pada perjalanan udara. Sejumlah pusat penerbangan utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, sempat menutup bandara mereka untuk sementara. Akibatnya, terjadi penundaan dan pembatalan penerbangan secara besar-besaran.
Menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium, sekitar 11.000 penerbangan menuju, dari, dan di dalam wilayah Timur Tengah dibatalkan. Kondisi ini berdampak pada lebih dari satu juta penumpang.
Sementara itu, Zheng berhasil meninggalkan Doha sesuai jadwal, tetapi suaminya terpaksa tertahan. Yu mengatakan bahwa jika ia menjadwalkan ulang tiketnya ke tanggal yang lebih awal, biayanya bisa mencapai sekitar 35.000 yuan atau sekitar Rp 85,6 juta. Mengganti maskapai juga dinilai mahal dan rumit. Akhirnya, ia memilih mengubah jadwal penerbangannya menjadi 13 Maret tanpa biaya tambahan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selama menunggu, Yu menginap di sebuah hotel di pusat Kota Doha dengan tarif sekitar 600 yuan atau sekitar Rp 1,4 juta per malam. Dari sana, ia mengaku bisa melihat rudal meledak di langit.
Meski situasinya menegangkan, ia mengatakan layanan sarapan di hotel yang sudah termasuk dalam biaya menginap tetap berjalan seperti biasa, dan layanan pesan antar makanan juga masih tersedia.
Halaman Selanjutnya
“Ini pertama kalinya saya menyadari bahwa perang bisa terasa begitu dekat,” kata Yu.

4 days ago
4










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

