VIVA - Harga Bitcoin diperkirakan masih bergerak di kisaran US$60.000-US$66.000 (Rp1,07 miliar-Rp1,18 miliar) per keping, hingga akhir September tahun ini.
Pada Minggu, 16 Agustus 2026, harga Bitcoin berada di sekitar US$62.900 (Rp1,12 miliar). Level tersebut menunjukkan bahwa aset kripto terbesar di dunia itu masih berada di tengah kisaran harga yang diproyeksikan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Trader dan investor kini mencermati arah suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) sebelum menentukan strategi untuk membeli atau menjual Bitcoin. Pasar juga masih menghadapi ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga.
Data CME FedWatch menunjukkan bahwa pelaku pasar menggunakan harga kontrak Fed Funds Futures untuk memperkirakan kemungkinan perubahan suku bunga pada setiap pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Sebelumnya, laporan 247WallSt menyebut peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 berada di sekitar 32 persen. Namun, ekspektasi pasar dapat berubah dengan cepat mengikuti data inflasi, tenaga kerja, dan perkembangan ekonomi AS.
Dua agenda penting
Volatilitas Bitcoin berpotensi meningkat pada September karena terdapat dua agenda penting yang berlangsung berdekatan. Pertama, Senat AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara prosedural terkait RUU Clarity pada 15 September 2026.
Pemungutan suara tersebut berkaitan dengan upaya memajukan pembahasan regulasi aset digital di Senat dan membutuhkan 60 suara untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Reuters melaporkan bahwa masa depan RUU Clarity masih menghadapi ketidakpastian setelah Senat menunda pembahasannya hingga September tahun ini.
Kedua, The Fed akan menggelar rapat FOMC pada 15-16 September 2026, dengan keputusan kebijakan moneter dijadwalkan pada hari kedua.
Rapat tersebut juga merupakan salah satu pertemuan yang disertai proyeksi ekonomi atau Summary of Economic Projections. Kedua agenda tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan Bitcoin.
Jika The Fed memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dapat kembali tertekan. Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan dapat meningkatkan daya tarik aset kripto.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Risiko Bitcoin turun
Dalam skenario negatif, Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$55.000 atau Rp980 juta. Tekanan dapat semakin besar apabila ketegangan geopolitik, khususnya konflik dan perselisihan antara AS dan Iran, terus berlangsung.
Halaman Selanjutnya
Perkembangan di Timur Tengah telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, sementara kekhawatiran terhadap harga energi dan inflasi juga dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.

4 hours ago
3
















