Pasar Dinilai Perlu Cermati Faktor Makro soal Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar

23 hours ago 6

Rabu, 9 September 2026 - 22:00 WIB

Jakarta, VIVA Arus dana ETF Bitcoin (BTC) yang menembus US$3,8 miliar selama tiga pekan perdagangan berturut-turut pada periode 17 Agustus - 4 September 2026 menjadi perhatian pasar keuangan. Pelaku perdagangan aset kripto dalam negeri menilai pasar tetap perlu mencermati faktor makro terkait hal tersebut.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian mengungkapkan bahwa pada periode yang sama total aset bersih ETF Bitcoin spot berada di kisaran US$101,3 miliar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Arus masuk tersebut menunjukkan minat institusional terhadap Bitcoin masih terjaga di tengah pergerakan harga yang volatil. Sedangkan konsistensi arus masuk ETF menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat dinamika permintaan Bitcoin," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurutnya di tengah kuatnya arus dana ETF, perhatian pasar berikutnya tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi acuan sebelum keputusan The Fed.

Producer Price Index (PPI) dijadwalkan dirilis pada 10 September, disusul Consumer Price Index (CPI) pada 11 September. Setelah itu, Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15 – 16 September 2026, yang dinilai akan menjadi salah satu katalis utama.

Berdasarkan ekspektasi pasar saat ini, tambahnya, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) mencapai 58,4 persen, sementara peluang suku bunga tetap berada di 41,6 persen.

Ekspektasi tersebut turut dipengaruhi data tenaga kerja Agustus yang menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran sebesar 4,1 persen. Namun, arah ekspektasi pasar masih dapat berubah, seiring dirilisnya data inflasi sebelum pertemuan FOMC.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aloysia menilai rangkaian data tersebut penting untuk dilihat sebagai bagian dari gambaran makro yang lebih luas, bukan sebagai penentu tunggal arah pasar. Arus dana ETF, tambahnya, memberikan gambaran mengenai permintaan institusional, sementara PPI, CPI, dan keputusan The Fed akan menentukan bagaimana pasar membaca kondisi makro berikutnya.

"Namun, investor tetap perlu melihat seluruh indikator tersebut secara menyeluruh, melakukan riset mandiri (DYOR), dan tidak menjadikan satu data sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan," ujarnya. (Ant)

Bitcoin.

Bitcoin Berbalik Naik Setelah Jatuh ke US$57 Ribu, Momentum atau Jebakan?

Per 8 September 2026, Bitcoin berada di level US$78.937, turun sekitar 37,5% dari rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$126.198,07 yang tercatat pada 6 Oktober 2025.

img_title

VIVA.co.id

8 September 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |