Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:13 WIB
VIVA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut Teheran berada dalam “perang skala penuh” dan pemerintahannya terus berupaya mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi negara Teluk tersebut.
“Kita berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh,” kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi dan dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Minggu, 23 Agustus 2026. Ia mengatakan pemerintah “malu” karena masih terdapat berbagai persoalan dalam perekonomian.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Presiden AS Donald Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan memberlakukan sanksi yang paling menghancurkan atau paling mengerikan terhadap Iran,” kata dia.
“Musuh memperkirakan jika Iran jatuh, Iran akan menjadi Venezuela. Hal itu bukan hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuannya,” tegasnya.
Masoud Pezeshkian juga mengatakan Iran bekerja “dengan segenap kekuatan untuk menghindari perpecahan, konflik, dan sikap mementingkan diri sendiri.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar, yang mengakhiri permusuhan yang dimulai pada 28 Februari 2026, serta sepakat melanjutkan perundingan menuju kesepakatan final.
Namun, perundingan tersebut kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman dan pengaturan navigasi di Selat Hormuz, jalur penting bagi ekspor minyak mentah dan gas dunia.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Besar Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas situasi regional serta cara menghidupkan kembali perundingan langsung yang telah lama terhenti dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Dalam percakapan via telepon, Asim Munir dan Araghchi membahas “perkembangan regional serta cara-cara efektif untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Asia Barat,” demikian pemerintah Iran dalam unggahan di media social X.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Percakapan tersebut mencakup tantangan keamanan regional dan strategi untuk memperkuat stabilitas di kawasan, demikian menurut kantor berita Mehr mengutip keterangan Kementerian Luar Negeri Iran.
Kontak terbaru itu berlangsung di tengah dorongan baru para mediator, Pakistan dan Qatar, untuk mempertemukan kembali kedua pihak yang bertikai setelah berakhirnya batas waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final guna mengakhiri perang.
Halaman Selanjutnya
Sumber pemerintah Pakistan mengatakan kepada Anadolu bahwa Munir, yang secara aktif terlibat dalam proses mediasi, diperkirakan akan mengunjungi Teheran “dalam beberapa hari mendatang” sebagai bagian dari upaya terbaru untuk menghidupkan kembali perundingan secara langsung.

3 days ago
12
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

