Respons PSSI Usai Justin Hubner dan Keluarga Diteror Netizen Vietnam

4 hours ago 3

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:57 WIB

VIVA – PSSI buka suara terkait serangan di media sosial yang menyasar bek Timnas Indonesia, Justin Hubner. Bukan hanya sang pemain, keluarganya juga disebut ikut menjadi sasaran ujaran kebencian hingga ancaman.

Gelombang serangan tersebut muncul setelah Timnas Indonesia menelan kekalahan telak 0-3 dari Vietnam pada fase grup Piala AFF 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Usai pertandingan, Hubner sempat memberikan respons melalui media sosial. Bek berusia 22 tahun itu membela Timnas Indonesia sekaligus menyinggung kemenangan Vietnam.

Hubner seolah menyiratkan bahwa hasil berbeda bisa terjadi apabila Indonesia dan Vietnam kembali bertemu dengan kekuatan terbaik.

Pernyataan tersebut kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah warganet Vietnam. Serangan verbal di media sosial bahkan berkembang hingga menyasar keluarga Hubner.

Situasi tersebut membuat PSSI turun tangan. Federasi sepak bola Indonesia itu menegaskan bahwa rivalitas di lapangan tidak boleh berubah menjadi serangan personal di dunia maya.

Sekjen PSSI Yunus Nusi menyampaikan keprihatinannya atas berbagai ujaran kebencian dan ancaman yang diterima Hubner serta keluarganya.

"PSSI menyampaikan keprihatinan atas ujaran kebencian dan ancaman yang menyasar Hubner serta keluarganya, sekaligus menyerukan agar kritik tidak diarahkan menjadi serangan personal," kata Yunus Nusi.

PSSI Gaungkan 'Stop Hate, Protect Football'

Untuk meredam situasi dan menjaga keamanan pemain, PSSI turut mengadopsi kampanye global FIFA bertajuk 'Stop Hate, Protect Football'.

Kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih aman, termasuk menghadapi maraknya perundungan digital atau cyberbullying serta penyebaran data pribadi tanpa izin (doxing).

PSSI juga meminta suporter Indonesia tidak ikut terseret dalam aksi saling serang di media sosial.

Menurut Yunus Nusi, kritik terhadap pemain merupakan hal yang wajar dalam sepak bola. Namun, kritik tidak boleh berubah menjadi kebencian, ancaman, apalagi menyeret anggota keluarga pemain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepak bolanya," tegas Yunus Nusi.

PSSI berharap rivalitas Indonesia dan Vietnam tetap berlangsung dalam koridor sportivitas. Perbedaan pendapat di media sosial dinilai tidak seharusnya menghilangkan batas antara persaingan sepak bola dan kehidupan pribadi pemain.

Halaman Selanjutnya

Kasus yang menimpa Justin Hubner sekaligus menjadi pengingat bahwa panasnya persaingan di lapangan tidak boleh dibawa menjadi aksi perundungan terhadap pemain maupun keluarganya di dunia maya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |