Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.037 pada Selasa, 4 Agustus 2026. Posisi rupiah itu melemah 46 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.991 pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 5 Agustus 2026 hingga pukul 09.09 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.960 per dolar AS. Posisi itu menguat 67 poin atau 0,37 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.027 per dolar AS.
Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
- Pixabay/IqbalStock
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit US$450 juta.
"Hal itu disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat US$25,46 miliar, lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$25,91 miliar per Juni 2026.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di level US$145 miliar, disebabkan oleh keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025, atau turun hingga mencapai US$11 miliar. Angka ini dinilai masih aman karena cadangan devisa ini masih mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor.
Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang.
Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua pada hari Rabu, mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akan melambat, diperkirakan berada di bawah 5,6 persen namun tidak jauh dari 5,4 persen.
Perlambatan ekonomi disebabkan oleh tekanan eksternal seperti harga minyak mentah yang tinggi, eskalasi geopolitik, dan capital outflow dari pasar keuangan domestik. Pemerintah berencana mengeluarkan paket stimulus baru, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di semester II-2026.
Halaman Selanjutnya
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.030-Rp 18.080," ujarnya.

20 hours ago
7



















