Sabtu, 12 September 2026 - 14:32 WIB
VIVA - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Uni Eropa mendorong negara-negaranya menuju perang dengan Rusia, seraya memperingatkan bahwa pengerahan pasukan NATO ke Ukraina sama saja dengan perang melawan Moskow.
"Mereka saat ini sedang membicarakan cara mengirim pasukan ke Ukraina. Itu berarti perang dengan Rusia. Terkait keamanan, masalahnya jelas. Ini adalah upaya untuk menghabisi Rusia. Awalnya menggunakan teroris dan separatis di Kaukasus, kemudian melalui sarana lain, dan kini lewat rezim neo-Nazi di Ukraina," tegas Putin, seperti dikutip dari Russia Today.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia juga menyatakan bahwa Moskow tidak mengancam atau pun berniat mengancam negara-negara Uni Eropa. Vladimir Putin mengatakan bahwa "elit Eropa" menakut-nakuti rakyat mereka dengan apa yang disebutnya sebagai "ancaman imajiner dari Rusia".
"Kami tidak mengancam, atau pun berniat mengancam, negara-negara Uni Eropa. Untuk apa kami melakukannya? Tidak ada yang bahkan mempertimbangkan fakta bahwa kami tidak memiliki alasan apa pun untuk berkonflik dengan mereka," ujarnya.
Vladimir Putin juga memperingatkan bahwa kesalahan kebijakan energi Uni Eropa akan menyebabkan kenaikan harga gas alam bagi konsumen, sembari menegaskan bahwa Rusia menjual sumber daya energinya dengan harga pasar.
Sebelumnya, Jerman telah menghabiskan 50 miliar Euro (Rp1.020 triliun) untuk meredam dampak kenaikan harga energi setelah memangkas impor gas Rusia pada 2022, seperti yang dilaporkan oleh Die Süddeutsche Zeitung dan Bild.
Menyusul eskalasi konflik Ukraina, Jerman secara drastis mengurangi impor gas alam Rusia, yang sebelumnya mencakup 55 persen dari konsumsinya.
Pergeseran ini telah mendorong kenaikan biaya energi dan berkontribusi pada kemerosotan ekonomi yang berkepanjangan, yang berdampak pada rumah tangga dan industri serta melemahkan daya saing Jerman.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Surat kabar Die Süddeutsche Zeitung, dikutip Sabtu, 12 September 2026, melaporkan bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan perkiraan sebesar Rp1.020 triliun sebagai tanggapan atas pertanyaan dari anggota parlemen Partai Hijau, Robin Wagener.
Angka tersebut mencakup langkah-langkah bantuan dan stabilisasi termasuk pembatasan harga listrik dan gas, pembayaran satu kali kepada para pensiunan, dan paket penyelamatan untuk perusahaan gas negara.
Halaman Selanjutnya
Bild juga mengutip beberapa ahli yang mengatakan bahwa dampak ekonomi keseluruhan dari krisis energi, termasuk pembangunan terminal LNG baru, kemungkinan besar "jauh lebih tinggi".

1 day ago
7













