Jakarta, VIVA – Gelombang efisiensi kembali melanda industri teknologi global. Di tengah gencarnya pengembangan kecerdasan buatan (AI), sejumlah perusahaan justru melakukan perampingan organisasi. Terbaru, perusahaan perangkat lunak berbasis komputasi awan, Salesforce, dilaporkan memangkas hampir 1.000 karyawan pada awal bulan ini.
Berdasarkan laporan Business Insider, pemutusan hubungan kerja dilakukan secara relatif senyap dan berdampak pada sejumlah divisi, mulai dari pemasaran, manajemen produk, analitik data, hingga tim yang menangani produk AI andalan perusahaan, Agentforce.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Langkah ini menjadi sorotan karena Agentforce sebelumnya disebut sebagai bagian paling penting dalam strategi bisnis perusahaan. CEO Salesforce, Marc Benioff, bahkan pernah menegaskan bahwa teknologi tersebut merupakan inti dari seluruh produk yang mereka kembangkan.
“Orang-orang tidak memahami bahwa Agentforce adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Salesforce,” ujar Benioff dalam sebuah wawancara, sebagaimana dikutip dari Times of India, Jumat, 13 Februari 2026.
Agentforce sendiri dirancang untuk membantu perusahaan memanfaatkan bot otonom dalam menjalankan berbagai tugas, dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Sejumlah karyawan yang terdampak PHK mengumumkan penghapusan posisi mereka melalui media sosial profesional. Laporan menyebutkan bahwa pemangkasan terjadi di berbagai tim dan dikonfirmasi oleh beberapa pegawai.
Pemangkasan tenaga kerja ini terjadi di tengah perubahan struktur kepemimpinan perusahaan. Salesforce menunjuk enam eksekutif baru untuk mengisi jabatan senior, menggantikan lima pimpinan yang mengundurkan diri sejak akhir tahun lalu.
Di sisi lain, perusahaan justru semakin agresif mengintegrasikan AI ke dalam operasionalnya. Pada Agustus lalu, Benioff mengungkap bahwa penggunaan agen AI telah membantu mengurangi jumlah staf layanan pelanggan secara signifikan.
Menurutnya, jumlah tim dukungan pelanggan dipangkas dari sekitar 9.000 menjadi 5.000 orang berkat penerapan teknologi berbasis AI. Pernyataan tersebut sempat memicu perdebatan mengenai dampak otomatisasi terhadap tenaga kerja manusia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Langkah Salesforce mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi: investasi besar dalam kecerdasan buatan berjalan beriringan dengan pengurangan tenaga kerja. Perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi dan menekan biaya melalui otomatisasi, namun konsekuensinya adalah perubahan struktur pekerjaan.
Meski Benioff menyebut Agentforce telah digunakan oleh puluhan ribu pelanggan sejak diperkenalkan pada 2024 dan terus berkembang sepanjang 2025, pemangkasan tim yang terkait dengan produk tersebut tetap menimbulkan tanda tanya.
Halaman Selanjutnya
Analis menilai langkah ini bisa menjadi bagian dari penyesuaian strategi dan optimalisasi sumber daya. Namun yang jelas, transformasi digital berbasis AI kini bukan hanya soal inovasi, melainkan juga tentang bagaimana perusahaan mengelola dampaknya terhadap karyawan.

3 weeks ago
9










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

