Jumat, 11 September 2026 - 15:00 WIB
VIVA –9 September 2001 menjadi hari yang paling kelam bagi korban dan keluarga korban tragedi serangan 9/11. Di tanggal tersebut 4 pesawat yang telah dibajak menghantam menara kembar World Trade Center di New York, markas besar militer AS Pentagon dan satu lainnya terjatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania yang diyakini akan digunakan untuk menyerang Gedung Capitol di Washington.
Akibat insiden tersebut 2.977 orang dikabarkan meninggal dunia tetapi tidak termasuk 19 pembajak. Sebagian korban tewas berada di New York. Dari 2.997 orang yang tewas diketahui 246 penumpang dan awak di dalam empat pesawat tewas. Sementara itu, 2.606 orang teas di menara kembar baik saat serangan terjadi maupun kemudian akibat luka yang mereka alami. Sementara 125 orang dinyatakan tewas di Pentagon.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Al-Qaeda, jaringan ekstremis Islam yang saat itu berbasis di Afghanistan disebut-sebut menjadi otak dibalik sernagan tersebut. Kelompok yang dipimpin Osama bin Laden itu menyalahkan Amerika Serikat dan sekutunya atas berbagai konflik yang terjadi di dunia Muslim.
Sementara itu, Khalid Sheikh Mohammed, salah satu tokoh al-Qaeda, disebut sebagai orang yang merancang rencana serangan tersebut. Ia juga membantu merekrut para pilot, beberapa di antaranya kemudian menjalani pelatihan di Amerika Serikat.
25 tahun berselang, Osama bin Laden diketahui ditembak mati oleh pasukan khusus Amerika Serikat (SEAL Team 6) dalam sebuah operasi militer di Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. Lantas bagaimana dengan tokoh perancang rencana serangan 9/11 Khalid Sheikh Mohammed?
Melansir laman BBC Internasional, Jumat 9 September 2026, Khalid Sheikh Mohammed diketahui berhasil ditangkap pada tahun 2003 lalu. Dirinya sempat menjalani kurungan penjara selama tiga tahun di penjara rahasia CIA. Berdasarkan temuan Komite Intelijen Senat AS, selama dikurung di sana, Khalid menghadapi teknik interogasi yang brutal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Setelahnya, dia dikirim ke pangkalan Angkatan Laut AS di Guantanamo Bay, Kuba tempat dirinya berada hingga saat ini.
Selama lebih dari satu dekade, pengadilan militer di pangkalan tersebut telah mempertimbangkan apakah dan bagaimana dia dapat diadili atas perannya dalam serangan 9/11. Hal ini tidak lepas dari kekhawatiran bahwa perlakuan yang diterimanya selama berada dalam tahanan Amerika Serikat dapat memengaruhi atau melemahkan bukti yang digunakan untuk menjeratnya.
Halaman Selanjutnya
Pada Januari 2025, dia bersama dua terdakwa lainnya, yakni Walid Muhammad Salih Mubarak Bin Attash dan Mustafa Ahmed Adam al-Hawsawi, diperkirakan akan mengaku bersalah atas keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.

2 days ago
5













