Terombang-ambing 3 Jam di Laut dengan Perahu Karet, Begini Kesaksian Penumpang Selamat KM Virgo Transport 8

14 hours ago 6

Minggu, 13 September 2026 - 20:39 WIB

VIVA – Bertahan di tengah laut selama sekitar tiga jam hanya dengan mengandalkan perahu karet menjadi pengalaman menegangkan bagi Ahmad Saudi, salah satu penumpang yang selamat dari tenggelamnya KM Virgo Transport 8.

Ahmad bersama 14 orang lainnya menyelamatkan diri di atas perahu karet ketika angin kencang dan gelombang besar terus menghantam mereka. Dalam kondisi laut yang gelap, mereka hanya bisa menunggu hingga kapal penolong datang dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Yang di kapal karet itu ada 15 orang. Selamat, bisa naik ke kapal yang menolong tadi. Rata-rata laki-laki, perempuan tidak ada,” katanya saat ditemui di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Minggu malam, 13 September 2026. 

Tiga Jam Dihantam Ombak

Ahmad mengungkapkan, situasi di atas perahu karet bukan perkara mudah. Selama menunggu bantuan, mereka terus diterpa angin dan gelombang yang cukup tinggi.

“Gelombang terasa di dalam kapal. Di kapal karet itu saja tiga jam dihantam ombak terus. Pokoknya angin, gelombangnya besar dan tinggi,” ujarnya.

Meski kondisi tersebut membuat mereka harus bertahan dalam situasi yang penuh ketidakpastian, seluruh orang yang berada di perahu karet bersama Ahmad akhirnya berhasil dievakuasi oleh kapal penolong.

Kapal Mendadak Miring ke Kiri

Sebelum berada di atas perahu karet, Ahmad lebih dulu mengalami detik-detik ketika KM Virgo Transport 8 mulai kehilangan keseimbangan.

Saat kejadian sekitar pukul 01.20 Wita, Ahmad mengaku sedang tidur di sofa. Ia kemudian terbangun setelah mendengar seorang penumpang berlari sambil memberitahukan bahwa kapal dalam kondisi miring.

“Saya tanya, kenapa pak?, lalu dijawab katanya kapal miring, terus saya berdiri, ternyata memang miring benar. Langsung saya lari ke bawah,” kata Ahmad.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia kemudian berusaha mempertahankan diri dengan berpegangan pada tiang di dekat jendela. Kapal terus mengalami kemiringan hingga akhirnya Ahmad dapat bergerak menuju bagian atas kapal.

“Saya ke tiang jendela, saya pegangan sampai kapal itu miring, miring, miring. Saya tetap pegangan. Habis miring saya naik ke atas, kemudian menunggu kapal sampai tenggelam,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Menurut Ahmad, kemiringan kapal terjadi dengan sangat cepat dan badan kapal bergerak ke arah kiri. Situasi tersebut membuat penumpang tidak memiliki banyak waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |