Abu Gunung Anak Krakatau Terhirup? Begini Bahayanya saat Partikel Masuk ke Paru-paru

4 hours ago 2

Kamis, 10 September 2026 - 21:26 WIB

VIVA – Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu lebih waspada terhadap paparan abu vulkanik.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin, 7 September 2026 pagi, abu pada lapisan permukaan hingga sekitar 15.000 kaki terpantau menyebar ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, hingga Bengkulu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di balik abu yang terlihat mengotori udara dan permukaan benda, ada ancaman yang tidak selalu kasatmata. Partikel berukuran sangat kecil dapat ikut terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, menjelaskan ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa jauh abu dapat masuk ke sistem pernapasan.

“Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin,” jelas dr. Sondang dalam keterangannya, dikutip Kamis 10 September 2026. 

Jangan Anggap Semua Abu Sama

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material hasil erupsi terdiri dari partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian partikel yang melayang di udara dapat masuk dalam kategori particulate matter atau PM. Dua istilah yang perlu dikenal adalah PM10 dan PM2.5.

PM10 merupakan partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara PM2.5 berukuran lebih kecil, yakni 2,5 mikrometer atau kurang, sehingga dapat menembus lebih jauh hingga saluran napas kecil di paru-paru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Semakin kecil ukuran partikelnya, semakin besar peluang partikel mencapai bagian saluran pernapasan yang lebih dalam.

Namun, risiko kesehatan akibat abu vulkanik tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel. Konsentrasi abu di udara, lamanya seseorang terpapar, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan masing-masing individu turut memengaruhi dampaknya.

Halaman Selanjutnya

Paparan dalam jangka pendek dapat memicu sejumlah keluhan, mulai dari hidung dan tenggorokan yang terasa teriritasi, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |