Jakarta, VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali terjadi di awal tahun 2025. Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor terpaksa merampingkan jumlah karyawannya sebagai dampak dari tekanan ekonomi global, perubahan strategi bisnis, hingga efisiensi operasional.
Pada bulan Maret 2025, setidaknya enam perusahaan besar mengumumkan kebijakan PHK yang berdampak pada ribuan pekerja.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja dan pelaku industri terkait stabilitas ketenagakerjaan di tengah ketidakpastian ekonomi. Berikut adalah daftar enam perusahaan yang melakukan PHK pada Maret 2025 beserta alasan di balik keputusan tersebut.
1. Google
Ilustrasi Google Bard dan ChatGPT.
Google kembali melakukan PHK terhadap karyawannya, terutama di divisi sumber daya manusia dan unit cloud. Langkah ini merupakan bagian dari reorganisasi internal perusahaan, sebagaimana tercantum dalam memo yang dikirim oleh kepala SDM Google, Fiona Cicconi.
Pemangkasan ini dilakukan setelah kepala keuangan Google, Anat Ashkenazi, menekankan efisiensi biaya di tengah meningkatnya investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, PHK di divisi SDM memberikan pesangon sebesar 14 minggu gaji bagi karyawan tingkat menengah hingga senior, dengan tambahan satu minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja.
2. HSBC
HSBC
Photo :
- VivaNews/ Nur Farida
Raksasa perbankan global HSBC mengumumkan penghematan biaya sebesar 1,5 miliar dolar AS hingga akhir 2026. Sebagai bagian dari langkah efisiensi ini, HSBC memangkas hingga 8 persen tenaga kerja globalnya.
Posisi yang terdampak terutama berasal dari divisi korporat dan institusional grosir, dengan jabatan manajer senior menjadi salah satu target utama PHK. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan industri keuangan.
3. Northvolt
Northvolt, perusahaan baterai asal Swedia, resmi mengajukan kebangkrutan setelah menghadapi berbagai tantangan keuangan pada awal Maret 2025.
Perusahaan mengakui kesulitan dalam mengatasi kenaikan biaya modal, ketidakstabilan geopolitik, gangguan rantai pasokan, serta perubahan permintaan pasar.
Sebelumnya, Northvolt telah mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat pada November 2024. Namun, upaya restrukturisasi gagal membalikkan kondisi keuangan perusahaan, sehingga asetnya kini akan dijual oleh wali amanat yang ditunjuk pengadilan Swedia.
4. Village Roadshow Entertainment Group
FIlm: Joker (2019), Sutradara. Todd Phillips | Skenario: Todd Phillips, Scott Silve
Perusahaan produksi film Village Roadshow Entertainment Group (VREG), yang terkenal dengan waralaba The Matrix dan Joker, mengajukan perlindungan kebangkrutan di AS setelah menghadapi tekanan finansial yang berat.
Kesulitan keuangan perusahaan ini dipicu oleh perselisihan hukum dengan Warner Bros serta proyek film dan serial yang mahal tetapi tidak menguntungkan, yang semakin memperburuk kondisi bisnisnya.
Sebagai langkah penyehatan keuangan, VREG terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya. Selain itu, perusahaan juga berencana menjual perpustakaan filmnya senilai 365 juta dolar AS untuk mengurangi beban utang yang diperkirakan mencapai 500 juta hingga 1 miliar dolar AS.
5. Forever 21
Raksasa ritel mode, Forever 21, mengalami kesulitan akibat menurunnya kunjungan ke pusat perbelanjaan dan meningkatnya persaingan dengan e-commerce. Pada Maret 2025, perusahaan ini mengumumkan PHK terhadap 700 karyawan.
Dalam pernyataannya, Forever 21 juga mengungkapkan rencana mengecilkan skala operasional toko fisik dan menjual sebagian asetnya untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Meski demikian, toko dan situs webnya di AS tetap beroperasi.
6. Nissan Motor
Nissan Leaf di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012
Photo :
- VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Produsen otomotif Jepang, Nissan Motor Co, mengumumkan pemangkasan 20 persen dari struktur manajemen puncaknya sebagai bagian dari strategi pemulihan keuangan. Keputusan ini diambil seiring dengan pergantian CEO, di mana Ivan Espinosa menggantikan Makoto Uchida sejak 1 April 2025.
Penurunan laba lebih dari 90 persen dalam sembilan bulan terakhir, akibat melemahnya pasar di AS dan Cina, menjadi alasan utama Nissan melakukan efisiensi tenaga kerja. Perusahaan juga menghadapi dampak dari gagalnya merger dengan Honda Motor Co.
Halaman Selanjutnya
2. HSBC