Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik kepada 25 negara, termasuk Indonesia. Masuknya Indonesia dalam daftar tarif impor karena kinclongnya neraca perdagangan RI dengan AS. Indonesia tercatat konsisten membukukan surplus, setidaknya selama enam tahun berturut-turut.
Regulasi tarif impor ini akan berlaku mulai 9 April 2025. Langkah yang diambil Trump merupakan upaya pemerintah AS mengatasi ketidakadilan perdagangan global, mengembalikan manufaktur, serta mendorong pertumbuhan ekonomi warga Amerika.
Trump akan mengenakan tarif bea masuk sebesar 32 persen terhadap barang-barang buatan Indonesia yang masuk ke pasar AS. Indonesia dinilai jadi salah satu negara penyumbang defisit terbesar terhadap perdagangan negeri Paman Sam itu. Mengingat besaran tarif pajak yang dikenakan Indonesia terhadap barang-barang dari AS sebesar 64 persen.
Dikutip dari data Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Kamis, 3 April 2025, surplus perdagangan Indonesia ke AS terlihat pada tahun 2019 sebesar Rp US$ 8,58 miliar atau Rp 142,08 triliun (estimasi kurs Rp 16.560). Pada tahun 2020, surplus tercatat naik menjadi US$ 10,04 miliar setara Rp 166,26 triliun.
Presiden AS Donald Trump berlakukan tarif masuk barang impor ke AS
Photo :
- AP Photo/Mark Schiefelbein
Pada tahun ketiga atau 2021, margin ekspor-impor antara Indonesia dengan AS mencapai US$14,54 miliar atau Rp 240,78 triliun. Selanjutnya di tahun 2022, surplus membukukan nominal tertinggi yakni tembus US$ 16,57 miliar atau Rp 247,39 triliun terdongkrak nilai ekspor yang mencapai US$ 28,18 miliar.
Keuntungan masih terus berlanjut di tahun 2023 meskipun nilainya menurun menjadi US$ 11,97 miliar atau Rp 198,22 triliun. Pada tahun 2024, surplus akhirnya menggemuk kembali menjadi US$ 14,34 miliar atau Rp 237,47 triliun ditopang lonjakan ekspor dari US$ 23,25 miliar menjadi US$ 26,31 miliar.
Surplus perdagangan Indonesia ke AS disumbangkan oleh penjualan sejumlah barang dengan nilai ekspor tertinggi. Posisi nomor satu adalah mesin dan perlengkapan elektrik yang berkontribusi sebesar US$ 4.181,6 juta.
Selanjutnya, pakaian rajutan dan aksesorisnya memiliki nilai ekspor sebesar US$ 2.483,6 juta. Alas kaki menyumbang US$ 2.393,8 juta lalu kategori pakaian dan aksesori (bukan rajutan) mencapai US$ 2.122,8 juta.
Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati membukukan US$ 1.784,1 juta, karet dan barang dari karet tercatat sebesar US$ 1.685 juta serta perabotan dan alat penerangan mencapai US$ 1.432,9 juta. Penjualan ikan dan udang juga menjadi yang paling laris di pasar Amerika, yakni tercatat sebesar US$ 1.097,8.
Mesin dan peralatan mekanis made in Indonesia juga berhasil mencatat nominal cukup besar, yaitu US$ 1.017,1 juta. Pada posisi paling buncit ditempati produk olahan daging dan ikan yang meraih nilai ekspor sebesar US$ 788,3 juta.
Halaman Selanjutnya
Surplus perdagangan Indonesia ke AS disumbangkan oleh penjualan sejumlah barang dengan nilai ekspor tertinggi. Posisi nomor satu adalah mesin dan perlengkapan elektrik yang berkontribusi sebesar US$ 4.181,6 juta.