Jakarta, VIVA – Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke beberapa negara termasuk Indonesia akan membuat pertumbuhan ekonomi global melambat. Trump telah mengenakan tarif impor sebesar 32 persen ke Indonesia.
Wijayanto mengatakan, kebijakan yang kini ditempuh Trump terhadap sejumlah negara akan memicu perlambatan ekonomi yang masif. Risiko investasi global akan semakin tinggi, investor diperkirakan akan merelokasi investasi ke alternatif yang lebih aman.
"Bagi dunia, langkah Trump akan berakibat pada perlambatan ekonomi yang masif. Bisa dipastikan IMF, World Bank, OECD dan berbagai lembaga internasional lainnya akan segera melakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulisnya Kamis, 3 April 2025.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif masuk barang impor ke AS
Photo :
- AP Photo/Mark Schiefelbein
Wijayanto memandang, ekonomi banyak negara akan banyak terdampak baik melalui transmisi perdagangan atau investasi. Harga saham dunia diperkirakan akan semakin volatile dengan trend menurun, termasuk nilai tukar mata uang.
Sedangkan bagi Indonesia, Wijayanto menyebut bahwa target pertumbuhan ekonomi yang dibidik pemerintah sebesar 5,2 persen mustahil tercapai pada tahun ini.
"Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh di mana impian untuk tumbuh 5 persen tahun ini semakin tidak realistis. IHSG akan semakin volatile dan cenderung melemah, terutama untuk beberapa sektor berorientasi ekspor," jelasnya.
Wijayanto menuturkan, tarif impor Trump ini juga akan membuat upaya refinancing utang dan utang baru pemerintah sebesar Rp 800 triliun dan Rp 700 triliun di tahun ini tidak akan mudah.
"Upaya refinancing utang dan utang baru sebesar Rp 800 triliun dan Rp 700 triliun di tahun ini tidak akan mudah, selain kebutuhan akan return yang lebih menarik, kita juga menghadapi pasar yang semakin berat. Mengingat ekspor kita ke AS didominasi oleh produk industri padat karya, maka tekanan PHK akan semakin kuat," jelasnya.
Menurutnya, kebijakan yang kini diambil oleh Trump adalah langkah unilateral yang brutal dengan motif menyelamatkan keuangan negara, Sebab sebelum pengumuman kebijakan reciprocal tariff dilakukan, berbagai negara telah mencoba melakukan negosiasi, termasuk India, Vietnam dan Korea Selatan yang mempunyai lobbyist kuat di Washington DC.
"Tetapi mereka gagal total, negara-negara itu seperti sedang menghadapi tembok beton. Dalam konteks ini, upaya negosiasi bukan pilihan yang mungkin dilakukan, termasuk oleh Indonesia, paling tidak dalam 1-2 tahun ke depan. AS sedang dalam survival mood, apalagi kemampuan lobby kita sangat terbatas," terangnya.
Maka dari itu, Wijayanto menyatakan bahwa pemerintah harus melakukan beberapa langkah dalam waktu dekat. Pertama Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa untuk menghadapi rally atau perang mata uang yang panjang.
"Kedua kita perlu melakukan rekalibrasi APBN, program boros anggaran perlu dikurangi untuk memprioritaskan program jangka pendek yang berdampak langsung pada daya beli dan penciptaan lapangan kerja. Demand dari dalam negeri perlu distimulus untuk menggantikan demand dari LN yang berpotensi menurun," tegasnya.
Ketiga, pengetatan impor legal dan penghentian impor illegal secara total. Keempat, penguatan industri jasa keuangan, terutama perbankan dan pasar Modal, untuk mampu berperan sebagai shock absorber bagi semakin tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
Kelima, Pemerintah perlu segera mengeluarkan kebijakan komprehensif yang konkrit dan realistis serta dinarasikan dengan baik. Sebab berbagai kalangan masih belum melihat dengan jelas ke mana ekonomi Indonesia akan dibawa oleh Pemerintahan Prabowo.
"Keenam, memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan berbagai negara dengan memanfaatkan sentimen 'perasaan senasib', termasuk dengan EU, ASEAN, India, Timur Tengah, bahkan Afrika dan Amerika latin. Ketujuh, membentuk tim negosiasi yang disiapkan untuk bernegosiasi dengan AS saat kondisi sudah memungkinkan," imbuhnya.
Halaman Selanjutnya
Wijayanto menuturkan, tarif impor Trump ini juga akan membuat upaya refinancing utang dan utang baru pemerintah sebesar Rp 800 triliun dan Rp 700 triliun di tahun ini tidak akan mudah.