Jakarta, VIVA – Tak menutup kemungkinan pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri berat badan mengalami kenaikan. Bahkan tak jarang berat badan kita malah naik 2x lipat dari sebelum berpuasa.
Melonjaknya berat badan pasca lebaran tentu menjadi concern bagi sejumlah kita terutama bagi mereka yang memiliki agenda khusus pasca lebaran seperti menikah. Tentu melihat kenaikan berat badan yang drastis membuat kita mencoba beberapa metode diet untuk menurunkan berat badan. Beberapa pilihan yang dinilai ampuh untuk menurunkan berat badan antara lain intermitten fasting dan defisit kalori. Scroll lebih lanjut ya.
Kedua jenis diet tersebut dianggap paling ampuh dan signifikan dalam menurunkan berat badan. Namun dari kedua jenis diet tersebut mana yang paling ampuh menurunkan berat badan? Berikut ini ulasannya seperti melansir laman Times of India.
Sebuah studi yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Colorado menyebut bahwa intermitten fasting ternyata jauh lebih efektif menurunkan berat badan secara signifikan dibandingkan dengan defisit kalori. Dalam jurnal Annals of Internal Medicin yang diterbitkan para peneliti di kampus tersebut menunjukkan bahwa jenis intermitten fasting 4:3 yang mana seseorang dapat bebas makan selama 4 hari dan 3 hari lainnya menjalani pembatasan kalori yang intens dalam sepekan menunjukkan penurunan berat badan rata-rata 7,6 persen dalam setahun. Hal ini jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menjalani pembatasan kalori harian (DCR) yakni hanya sebesar 5 persen.
Meskipun penelitian sebelumnya telah melihat diet jenis intermitten fasting dan defisit kalori, tim peneliti melaporkan tidak melihat adanya perbedaan yang mencolok diantara dua strategi diet itu.
“Itu mengejutkan sekaligus mengasyikkkan bagi saya lantaran intermitten fasting ternyata lebih baik. Pesan yang lebih penting bagi saya adalah bahwa ini adalah strategi diet yang merupakan alternatif berbasis bukti, terutama bagi orang-orang yang telah mencoba metode DCR namun masih merasa kesulitan menurunkan berat badan,” kata penulis utama sekaligus profesor asosiasi endokrinologi di Fakultas Kedokteran Universitas Colorado, Victoria Catenacci, MD.
Hasil Lengkap Penelitian
Ilustrasi berat badan. (Unsplash.com/Jennifer Burk)
Untuk menemukan pola makan terbaik para peneliti secara acak menugaskan 165 dewasa dengan obesitas untuk menjalani intermitten fasting 4:3 dan diet pembatasan kalori selama 12 bulan.
Berdasarkan hasil pemantauan peserta yang menjalani diet IF 4:3 mengurangi asupan kalori mereka sebesar 80 persen selama menjalani pembatasan asupan kalori selama tiga hari. Sementara pada empat hari lainnya yang mana mereka bisa makan dengan bebas ternyata peserta malah terdorong untuk membuat pilihan makanan yang lebih sehat.
Sementara jika melihat peserta yang menjalani defisit kalori mereka mengikuti batas kalori harian yang dirancang untuk mengurangi asupan energi sebesar 34,3 persen.
Setelah dilakukan evaluasi selama setahun, mereka yang menjalani diet IF 4:3 mengalami penurunan 7,6 persen berat badan. Sementara mereka yang menjalani defisit kalori hanya mengalami penurunan sebesar 5 persen.
Sementara 58 persen dari mereka yang masuk dalam kelompok intermitten fasting mencapai hasil metabolik yang baik hal ini termasuk tekanan darah sistolik, kadar kolesterol lipoprotein total dan kepadatan rendah dan kadar glukosa puasa yang baik.
Halaman Selanjutnya
Hasil Lengkap Penelitian